18.10.16

Aku Bersyukur Tuhan, Karna Pernah Gagal

BERSYUKURLAH KARNA PERNAH GAGAL
Chusnul Rizatul Untsa
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

                Sebagai pelajar tugas utama kita adalah belajar bukan. Apalagi usia – usia SMA yang merupakan masa keemasan untuk kita bersosialisasi dengan teman sebaya. Menghabiskan waktu dengan bermain dan bergaya. Beberapa tahun silam dimana usiaku menginjak 15 tahun dan duduk di bangku kelas satu SMA. Sekolahku merupakan sekolah negri yang terbilang favorit. Beberapa teman – temanku juga kalangan elite. Berawal dari keramahan dan mudahnya aku beradaptasi mereka menjadi sangat akrab denganku. Dan gaya hidup mereka membuat kehidupanku pada fase itu berubah drastis.
                Pada saat masih di bangku SMP saya adalah anak yang tertutup di kalangan teman – teman sebaya. Hanya berteman dengan teman kelas saja. Dan menghabiskan waktu hanya untuk kerja kelompok dan olimpiade. Sebut saja aku cupu waktu itu. Karna tidak tau pergaulan luar. Tempat aku bersekolah SMP adalah kalangan yang lebih elite lagi, karna sekolah saya pada saat itu disebut SBI (Sekolah Bertaraf Internasional) sekarang sistem itu sudah tidak dipakai menurut kebijakan pemerintah karna menimbulkan kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial itu yang menjadikan saya pendiam saat di sekolah terlebih di luar lingkungan kelas. Karna aku bukan anak yang menenteng laptop dan di antar jemput mobil pada saat itu. Sekolah bertaraf Internasional tapi aku masih pake sepeda ontel yang sangat tidak modern, banyak besi berkarat dan tidak memiliki boncengan di belakang karna sudah rusak.
                Karna lingkungan di SMP yang merasa asing dan cupu itu yang membuatku sedikit kaget ketika mendapat teman – teman yang asyik. Dengan waktu yang singkat saya menjadi anak populer di sekolah hanya karna berani menentang kakak kelas ketika ospek. Dan sejak momen itulah banyak sekali teman – teman mendekati saya. Termasuk anak – anak gaul yang se-SMP denganku. Perlahan gaya hidupku berubah. Otomatis dengan beberapa hal kecil aku jadi lebih sering nongkrong dan sering jalan – jalan dengan mereka. Kedua orang tuaku saat itu masih mampu membiayai ku dengan gaya hidup seperti mereka. Aku biasa mentraktir teman – teman dan sebaliknya aku juga sering di traktir mereka.

                Tapi itu tidak berlangsung lama, musibah menimpa Ayahku di perantauan. Yang berakibat buruk untuk ekonomi keluarga. Termasuk uang jajan dan bulananku. Aku mulai jarang main dengan teman – teman nongkrong. Sampai pada titik aku benar – benar tidak memiliki fasilitas yang menyenangkan saat Ayahku masih sukses. Pada posisi ini aku jarang bawa uang saku ke sekolah. Sampai akhirnya pada keterpurukan ini aku memiliki ide untuk berjualan di sekolah. Satu hal yang aku cintai dari kecil adalah berdagang. Hal itu aku wujudkan dengan berjualan kue ke sekolah. Menjadi pedagang kue berseragam sekolah. Membawa box kue berisi 40 sampai 70 buah perhari. Dan setiap pagi menyempatkan ke pabrik kue untuk mengambil kue yang akan aku jual. Aku hanya menenteng box itu dr parkiran sampai kelas. Mungkin beberapa temanku kaget dengan perubahanku, tapi karna aku sedikitpun tidak minder jadi aku tidak menghawatirkan apapun. Bersyukurnya teman – temanku tidak membully ku, meski ada saja yang mencibir tapi tidak sebanyak yang mendukungku. Berjualan kue di sekolah itu berlangsung sampai aku benar – benar lulus dari SMA. Sampai sekarang aku terkenal sebagai siswi penjual kue. Beberapa guru akan selalu ingat hal itu karna bisa dibilang kegiatanku itu menonjol diantara teman – teman yang lain. Sampai keadaan ekonomi keluargaku memulih aku tetap berjualan sampai detik ini sejak pertama kali aku berjualan sudah 6 tahun berlalu dan aku tidak pernah mengandalkan uang orang tua lagi. Aku jadi terbiasa berproduktif sendiri bahkan untuk biaya kuliahku. Kegagalan itu mengajarkan hal yang sangat besar kepadaku yang berimbas sampai sekarang. Dan aku bersyukur Tuhan karna waktu itu pernah gagal.

0 comments:

Post a Comment