22.6.16

Sukses Menjadi Desainer Grafis

Achmad Rusdiyan Yazid
153104101116
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta
“Teruslah mencoba, karena pedang yang tajam harus diasah bukan ?” – DS  

Kali ini saya akan menceritakan obrolan saya dengan seorang teman yang berprofesi sebagai desainer disalah satu perusahaan startup. Disini saya panggil saja dengan DS.

Dalam sebuah kesempatan, kami awalnya membicarakan dan menceritakan tentang pengalaman kita masing-masing. Saya yang sedikit punya kemampuan desain, juga editing video karena memang dulu sekolah di jurusan multimedia. Teman saya ini dulu sempat kuliah, namun tidak selesai. Awal mula bagaimana teman saya berkenalan dengan dunia desain juga menarik untuk diceritakan.

Teman saya ini awalnya hanya iseng-iseng mencoba mendesain. Awalnya dia membantu layout dan desain buku salah satu komunitas non profit. “Awalnya dulu saya itu ya otodidak, pertama dari layout buku, kemudian desain sampulnya.” Tutur teman saya. Teman saya ini tidak pernah sekolah desain secara spesifik. Dia belajar otodidak, melalui artikel-artikel diblog, tutorial-turial, dan buku-buku desain sebagai referensi. “Saya dulu belajarnya ya cuma nyoba tutorial. Saya coba terus sampai mirip dengan hasil yang ditutorial.” … “Penasaran.” Katanya.

Proses belajar mendesain teman saya adalah dengan mencoba – meniru – modifikasi. Jadi, teman saya bilang, “Saya itu kalau udah bisa meniru sama persis di tutorial, kemudian saya coba bikin sendiri sesuai dengan keinginan saya. Saya modifikasi tuh desainya.” Menurutnya, kalau Cuma bisa sama kayak di tutorial saja, sering lupanya. Tapi kalau setelah itu dikulik lagi, dia bisa ingat tahapan proses pembuatannya. Jadi tidak perlu lagi membuka tutorial. “Kadang tekhnik desain A bisa diterapkan juga untuk membuat desain B.” Kata DS.

Proses belajar DS dalam mendesain, saya pikir sangat efektif. Terutama dalam proses mengerti, memahami, dan menerapkannya. Bagaimana cara mengatasi lupa atau daya ingat rendah pada proses mendesain, dengan mencobanya secara berulang-ulang juga efektif. Sehingga mampu meningkatkan daya ingat DS.

Selain itu, DS juga memiliki minat dan semangat yang kuat dalam proses belajar. Ketika berhasil memecahkan masalah, dalam hal ini adalah tutorial dalam membuat desain. Akan muncul perasaan puas dan senang. Sehingga proses ini akan diulangi karena membuat DS senang. Apabila DS tidak berhasil dalam memecahkan tutorial, DS akan terus mencoba. Muncul perasaan penasaran, ini mendorong kreatifitas DS untuk memecahkan masalah yang dialami. Proses kreatif ini yang membentuk perilaku pemecahan masalah secara kreatif.

Dalam prosesnya, DS juga tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan dan referensi. Referensi dan lingkungan menjadi faktor yang membentuk karakter desain-desain yang dihasilkan DS. Faktor lingkungan didapat dari pengalaman menghadapi keinginan atau permintaan klien yang beragam. Faktor referensi didapat dari banyak hal yang telah dilihat sebagai desainer, hal-hal yang kadang tidak dilihat oleh orang lain. Lingkungan dan referensi menjadi faktor penting untuk menemukan dan mengembangkan karakter desain dari seorang desainer.

Saat ini, DS memiliki bisnis clothing online sendiri. Tentu saja selain menjadi desainer senior di salah satu perusahaan startup. Sudah banyak karya desain yang dihasilkannya. Dari mulai layout sampai desain cover buku, poster, kaos, logo, dan lain sebagainya.

Ingin sukses menjadi seorang desainer ?

“Teruslah mencoba, karena pedang yang tajam harus diasah bukan ?” – DS  

0 comments:

Post a Comment