14.6.16

Ringkasan Artikel : Kacamata Kayu Eastwood ini Tembus Eropa

Manik Muthmain 
Fakultas Psikologi Universitas 45
Yogyakarta


Siapa sangka bahan tak terpakai sisa pembuatan mebel dan gitar dapat diolah menjadi barang bernilai tinggi. Di tangan Yogie, Galih dan kawan-kawannya, kacamata frame kayu membangkitkan kembali fashion retro yang sempat ngetrend di tahun 1970.
"Karena tidak butuh banyak bahan, kami memanfaatkan kayu tak terpakai dari industri mebel dan gitar. Dari 15 lebih model, sekitar enam diantaranya paling banyak diproduksi seperti dexter, pinisi, kokila, malaka dan moris," kata desainer Eastwood Yogie Irawan Cendana, Minggu (03/04/2016).

Dia menjelaskan desain itu bisa dipakai harian atau sekadar mode tanpa dibatasi gender. Penggunaan lensa kacamata dapat disesuaikan penderita gangguan penglihatan maupun 'sunglass' sekadar bergaya. Pemilihan material kayu menunjukkan pemakainya ingin tampil berbeda. "Menonjolkan warna asli bercorak kayu. Semakin lama usia kacamata itu, maka corak alami frame makin terlihat. Kami membanderol mulai Rp 500 ribu -  Rp 800 ribu," lanjut pria lulusan Desain Interior UNS ini.

Menurut Penanggung Jawab Produksi Eastwood, Galih Donat harga yang ditawarkan sudah pantas karena proses pembuatannya sangat rumit. Karena itu, tujuh pekerja hanya mampu memproduksi 100 unit dalam sepekan. Hasil produksi lebih banyak dipasarkan ke Amerika Serikat, Prancis dan Inggris. Sedangkan pasaran lokal sebagian besar ke Bali. "Butuh kehati-hatian membuat kacamata ini. Untuk menghasilkan lengkungan, perlu dipanasi dengan suhu pas. Kami menunjuk Shaggydog dan Naviculla sebagai endorse produk kacamata ini," katanya.

Bermodal potongan kayu jati dan sonokeling atau campuran keduanya, bahan-bahan tersebut kemudian dipotong sesuai desain menggunakan mesin laser. Dengan memanfaatkan bagian rantai kamprat sepeda motor, potongan frame dan gagang disatukan. Pada bagian finishing, penyemprotan ke bagian frame bertujuan menonjolkan warna dan corak asli kayu. (Abdul Alim)

Sumber : Kedaulatan Rakyat Jogja | Minggu, 03 April 2016
 


0 comments:

Post a Comment