7.6.16

RINDU SANG BUAH HATI

Chapter 5
RINDU SANG BUAH HATI
Irnaningsih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Saat bersantap saur pak Wahyono teringat putrinya yang bekerja di Batam, Ia teringat betul bagaimana anaknya meramaikan saat-saat berbuka dan bersantap saur. Terkadang Ia berfikir dengan apa anakku di sana makan, tetapi Ia percaya Allah menjaganya dengan baik. Ia takut lebaran nanti tidak dapat bertemu dengan putri tercintanya. Tapi sang Istri selalu menguatkan kerinduan itu menjadi doa-doa indah yang di lantunkan untuk buah hatinya. Pak Wahyono dan istri sangat bangga pada putrinya, mereka bangga atas kepedulian sang putri pada keluarga dan sesamanya.  Mereka percaya nilai-nilai yang selalu mereka tanamkan akan di pegang kuat oleh anaknya di manapun berada. Selesai bersantap sahur pak Wahyono beserta keluarga segera bersiap-siap mengambil air wudhu dan bergegas ke masjid melaksanakan shalat Subuh berjamaah. Setelah itu seperti biasa pak Wahyono kembali berjuang menggoes becaknya, dan sang istri segera bergegas bekerja sebagai buruh bersih-bersih. Semangat ini menginspirasi saya betapa kerasnya hidup ini harus tetap kita hadapi, dan mengajarkan pada saya sekalipun sedang berpuasa kita harus tetap bersemangat dan jangan menunda-nunda aktifitas yang bermanfaat.

0 comments:

Post a Comment