24.6.16

Menjadi “ Pemulung Berkelas”, kenapa harus malu ??



Menjadi “ Pemulung Berkelas”, kenapa harus malu ??
Tri Welas Asih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45




Salah satu masalah yang menjadi perhaian di kota Jogja ini adalah masalah sampah. Hampir disetiap tempat kita menemukan sampah. Fenomena yang banyak terjadi adalah belum adanya kesadaran dari individu untuk ikut bertanggung jawab menjaga lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya. Orang dewasa seharusnya memberi contoh bagi anak-anak untuk menjaga lingkungan tapi pada kenyataannya justru anak yang kadang memperingatkan orang tuanya atau orang dewasa untuk membuang sampah pada tempatnya. Hal ini menjadi indikator bahwa kesadaran untuk peduli dengan lingkungan pada anak kadang lebih tinggi dari orang dewasa. Orang dewasa sering merasa cuek dengan lingkungan sekitarnya.
Menghadapi fenomena seperti diatas, Fakultas Psikologi UP45 berusaha  untuk ikut serta dalam kegiatan kepedulian lingkungan. Kegiatan yang sedang digalakkan saat ini adalah mewajibkan setiap mahasiswa psikologi untuk menjadi nasabah bank sebagai wujud ikut serta dalam kepedulian lingkungan. Menjadi nasabah di bank sampah, suatu aktivitas yang baru sekali dilakukan oleh kebanyakan mahasiswa psikologi. Pada prinsipnya sama dengan kita menabung uang di bank, hanya saja di bank sampah ini kita bukan setot uang melainkan setor sampah. 


Awal menjadi nasabah bank sampah bagi saya adalah suatu pengalaman baru karena saya harus mencari sampah untuk di setorkan ke bank sampah seminggu sekali. Sampah yang kita kumpulkan pun tidak semuanya diterima di bank sampah. Harus di sortir terlebih dulu untuk mendapatkan harga beli yang berbeda. Misalnya botol biasa dengan botol yang sudah dipisahkan tutupnya harganya bisa berbeda. Awal mengumpulkan sampah saya suka diam-diam untuk menyimpannya, apalagi ketika harus mengambil sampah dan disitu banyak orang, lebih baik saya melupakan sampah tersebut,,,,,.
Setelah beberapa kali setor ke bank sampah saya mulai senang mengumpulkan sampah, tidak ada rasa terpaksa ketika harus mengambil sampah yang saya temui meski ada orang ditempat itu. Kadang ketika ada orang yang membuang sampah sembarangan, saya sengaja mengambilnya dan membuangnya ketempat sampah agar orang yang membuang sembarangan tersebut merasa di sindir jadi tidak membuang sembarangan lagi. Karena saya sering berinteraksi degan anak-anak, maka saya juga mulai mengajak anak-anak untuk mengumpulkan sampah yang bisa didaur ulang dan tidak bisa. Ketika sudah terbiasa melakukannya, anak-anak bila menemukan sampah selalu ingat dengan saya,,(wah sudah mirip pemulung sampah saya,,)

Saya selalu menyampaikan pada anak-anak, bahwa klo kita mengumpulkan sampah itu bukan perbuatan yang jelek. Justru  kita membantu menjaga kebersihan lingkungan dan perilaku itu mulia atau baik. Kalau saya istilahkan adalah “ pemulung berkelas” hehehe,,,,. Saya  berusaha ikut serta dalam kepedulian dengan cara saya sendiri dan itu tidak menggangu orang lain, bahkan orang di sekitar saya ikut-ikutan mengumpulkan sampah dan diserahkan ke saya. Menjaga lingkungan adalah tanggungjawab kita semua, kalau tidak dari diri sendiri dulu terus dari siapa yang bisa memulai. Kita tidak perlu malu untuk menciptakan kondisi yang lebih baik dan nyaman untuk semuanya.

0 comments:

Post a Comment