11.5.16

Peer-cure : AKU ADA KARENA KAU TERCIPTA

AKU ADA KARENA KAU TERCIPTA, AKU DI SINI KARENA ENGKAU KEMARI

WALAUPUN SETELAHNYA HARUS MENGELUH ATAU MELENGUH, PALING TIDAK DARI LEHERNYA MENGALIR PELUH.

Deliana Vicria Nurachyani
Fakultas Psikologi
UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA

            Masih bersama cerita Ibu Paidi seorang ibu yang tangguh mencari nafkah dengan cara berjualan koran di perempatan Timoho. Pasti lah sempat terbesit beribu pertanyaan mengenai ibu Paidi ini? Bagaimana ia bisa sampai di Jogja? Bagaimana bisa beliau berjualan koran? Kenapa tidak berprofesi yang lain? Akankah suaminya menyetujui pekerjaan ini? Lantas, apa alasan beliau berjualan? Yuk, kita simak cerita ibu Paidi di minggu ketiga saya wawancara dengan beliau. ^_^

MINGGU KETIGA :
NUANSA PERJUANGAN KARTINI TERCEMIN
DI PARAS TANGGUHNYA IBU PAIDI

            Meskipun Ibu Kita Kartini sudah tiada, namun semangat perjuangan wanitanya masih ada hingga kini, salah satunya ialah perjuangan Ibu Paidi. Yah.. ibu Paidi tak kenal malu menjajakan koran-korannya di perempatan. Terik panas matahari yang menyengat tak menyurutkan semangatnya berjualan, senyum ramah yang meneduhkan terpancarkan di sudut bibirnya yang selalu ia tunjukkan ke calon pembelinya.
            Di siang
hari sekitar pukul 12 siang saat ibu Paidi selesai berjualan koran dan sedang menunggu anaknya menjemput beliau, saya berbincang-bincang kembali dengan ibu Paidi. Tak ada rancangan pertanyaan khusus yang saya rencanakan untuk wawancara hari ini. Saya bermaksud untuk menciptakan suasana yang enak dan nyaman ketika ibu Paidi menceritakan kisah hidupnya. Alhasil beliau tak sungkan-sungkan bercerita ngalor-ngidul dengan antusiasnya mengenai kisah hidupnya.
            “Iya mbak, aku dodolan koran ngene demi anak, aku sakkeluarga pindah Jogja ya demi anak mbak. Amarga anakku sing nomor telu sekolah ning Jogja sekeluarga yo melu ning Jogja, aku ora tego ndelok anakku urip dhewe ning Jogja iki, pikirku yen awakku ning Jogja mbak bakalan luwih ringan biayai kehidupan anakku sing sekolah iku”, tuturnya.
            Bisa diartikan bahwa Ibu Paidi di Jogja karena anaknya yang nomor tiga bersekolah di Jogja, Ibu Paidi berpikir bahwa dengan kehadiran semua keluarga bisa lebih meringankan biaya sekolahnya, tempat tinggal dan ongkos anaknya bersekolah tersebut. Itulah alasan beliau berada di Kota Pelajar ini.
            “Awale aku ora dodolan koran ngene mbak, aku buka warung ning ngomah saiki, dodolan lotek pecel lan gado-gado. Sakdurunge yo ono tonggoku sing dodolan ngono iku ning sejak aku dodolan mbak daganganku laris, luwih laris seko dodolane tonggoku kui. Aku njuk ora kepenak to mbak? Dodolan isih anyaran kok langsung laris? Yo amargo iku aku dadine tutup warung. Lebar tutup warung’e aku bingung mbak aku kudu kerjo opo? Ora mungkin to mbak yen aku mung meneng wae ning ngumah, wong bojoku kerjo mosok aku muk nganggur-nganggur ning ngumah? Ngono iku kudu biayai urip anakku sing akeh iki. Aku golek gawean mrona mrene ora ketemu mbak, wong aku wis tuwo sopo sing arep memperkerjakan aku? Nah wengi iku aku ditawari tonggoku aku kon dodolan koran, ngedolke koran ning dalan. Yoh tak turuti aku moro ning kantor ning Jalan Mangkubumi , syarat’e mung fotocopy KTP karo KK. Langsung isuk’e aku ngiderke koran ning kene mbak ning perempatan kene iki. Awal’e emang rodok-rodok susah muk sitik pelanggane, isih penyesuaian mbak. Nganti koran ora entek, kantor kono yo isih memaklumi. Ning aku ora langsung putus asa mbak, dino selanjut’e aku ngiderke alhamdulillah koran’e laris . duh.. nyenengke tenan mbak. Ya walaupun bathine ora sepiro ning perjuangan nafkah nggo anak wis luar biasane mbak”, kata beliau penuh haru.
            Jika disimpulkan dalam bahasa Indonesia bahwa Ibu Paidi awalnya sempat berjualan lotek, pecel dan juga gado-gado di rumah yang sekarang ia tempati, ibu Paidi baru saja memulai berjualan saat itu langsung laris manis hingga warung milik tetangganya yang sudah bertahun-tahun tersebut kalah dengan jualan Ibu Paidi. Nah, karena hal tersebutlah Ibu Paidi memutuskan untuk menutup warungnya dan mencoba mencari pekerjaan. Diumurnya yang sudah renta ini tentu susah mencari pekerjaan, ia harus bekerja untuk membantu perekonomian keluargannya. Hingga pada suatu hari ia ditawari untuk mencoba berjualan koran dan dengan selembar fotocopy KTP dan Kartu Keluarga ibu Paidi akhirnya bisa berjualan. Di hari pertamanya berjualan sungguh belum menghasilkan apa-apa, namun dihari berikutnya ia tidak patah semangat menjajakan jualannya tersebut, alhasil jualan Ibu Paidi saat itu sedikit lumayan. Walupun keuntungan menjual koran hanya sedikit namun ia sangat merasakan perjuangan seorang ibu demi menafkahi anaknya hingga kini. Ia saat ini masih berjualan meskipun anak-anaknya sudah bekerja semua dan sang suami telah tiada, namun naluri tanggung jawab sebagai orang tua satu-satunya mencari nafkah untuk anak-anaknya masih ia rasakan dan tak kenal lelah ataupun lengah meskipun setelahnya harus mengeluh atau melenguh, paling tidak dari lehernya mengalir peluh pengorbanan seorang ibu demi anaknya. ^_^


Cerita ini masih bersambung... tunggu ceritaku selanjutnya ya, Dears :-* SALAM HANGAT UNTUK PARA IBU DI INDONESIA TERUTAMA IBU SAYA :-*

0 comments:

Post a Comment