15.4.16

TERJAJAH DI TANAH SENDIRI


WARTONO 153104101120
 FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS PROKLAMASI  45 YOGYAKARTA

TERJAJAH DI TANAH SENDIRI



Pertumbuhan Industri Kopi Merapi Terhambat
Dengan mudah para penikmat kopi di DIY,meneguk cita rasa kopi dari sabang samapi merauke tanpa perlu keluar dari tanah Yogyakarta.Hal ini tentunya membawa dampak positif bagi petani kopi nusantaralantaran industry ini kian menjanjikan.

Namun sayangnya kemajuan tersebut belum dicecap oleh petani kopi di lereng merapi,khususnya kabupaten sleman,padahal tanah di lereng tersebut begitu subur karna dampak semburan material vulkanik oleh gunung merapi sendri.akan tetapi meski begitu,kopi asal lereng merapi belum dikenal di tanah sendiri,semua itu dikarenakan minimnya sajian kopi merapi di kedai kedai di DIY.Termasuk wilayah sembada.

Dari Catatan Koperasi Usaha Bersama (KUB) kebun makmur pakem,hanya 15 kedai kopi yang mengambil biji kopi merapi,dari 105 kedai kopi di daerah DIY.iyupun tidak semua rutin mengambilnya baik yang disangrai atau roasting maupun dlm bentuk green bean atau biji mentah.smua itu dikarenakan kedai kedai kopi lebih memilih menyediakan kopi dari daerah lain seperti kopi Gayo,Lampung,Bali,dan Temanggung,padahal produksi kopi merapisudah standar kopi premium atau kelas satu.

Menurut Arga(23) salah satu pengelola kedai kopi di wilayah Depok,dia sudah beberapa kali pernah menyuguhkan kopi merapi,namun sebagian besar konsumen lebih memilih kopi daerah l;ain lantaran sudah familiar dengan nama dan rasanya.

Menurut sebagian kedai kedai yang ada di DIY.kopi merapi dibutuhkan promosi yang gencar agar kopi asli DIY ini dikenal dan bisa disejajarkan dengan kopi kopi nusantara lainya.namun meski terus mengalami perkembangan yang cukup pesat,industry kopi nusantara belum megugah minat petani dikaki merapi,selain lahan yang sudah mengalami banyak perubahan pascaerupsi 2010,warga lebih banyak tertarik pekerjaan yang cepat menghasilkan seperti penambangan.dikartenakan pada tahun 2010 harga biji kopi merapi begitu rendah.
Sumber Tribun Jogja 21 Maret 2016

0 comments:

Post a Comment