22.4.16

Flu Burung DKI Musnahkan Unggas dan Ajak Warga Aktif Melapor



Flu Burung
DKI Musnahkan Unggas dan Ajak Warga Aktif Melapor
Psikologi Lingkungan
Fiki Fatimah
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

29 Maret 2016

jakarta, kompas Pemusnahan unggas yang dipelihara di permukiman dan tidak bersertifikat masih dilakukan petugas. Langkah ini merupakan upaya mencegah penyebaran virus flu burung.
Kepala Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Jakarta Pusat Mulyadi, Senin (28/3), menjelaskan, pemusnahan unggas dilakukan terhadap 42 merpati dari 28 kandang di Kelurahan Cempaka Baru, Kecamatan Kemayoran, serta 110 merpati dari 40 kandang di Kelurahan Menteng.
Pemeliharaan dan Peredaran Unggas di Wilayah DKI Jakarta belum efektif memutus siklus kasus.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama juga memerintahkan petugas menyita seluruh unggas yang terjangkit flu burung. Demikian pula dengan unggas yang dipelihara di tengah permukiman dan dianggap membahayakan warga. Sebab, flu burung berisiko menular ke manusia.
Penyakit flu burung atau influenza pada unggas (Avian Influenza/AI) adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan ditularkan oleh unggas.
Di Indonesia pada bulan Januari 2004 dilaporkan adanya kasus kematian ternak ayam yang luar biasa terutama di Bali, Botabek, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jawa Barat. Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh virus new castle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian disebabkan oleh virus flu burung. penyakit flu burung telah merenggut nyawa tiga orang warga Tanggerang Banten. Hal ini didasarkan pada hasil pemeriksaan laboratorium Badan Litbang Depkes Jakarta dan laboratorium rujukan WHO di Hongkong.
Melihat kenyataan ini seyogyanya masyarakat mewaspadai adanya penyakit flu burung, namun tidak perlu sampai timbul kepanikan.

PENYEBAB
Penyebab flu burung adalah virus influenza tipe A, termasuk kedalam family Orthomyxoviridae yang dapat berubah-ubah bentuk. Virus influenza tipe A terdiri dari Hemaglutinin (H) dan Neuramidase (N), kedua huruf ini digunakan sebagai identifikasi kode sub tipe flu burung yang banyak jenisnya.
GEJALA KLINIS
1. Gejala pada Unggas
–          Jengger, pial, kulit perut yang tidak ditumbuhi bulu berwarna biru keunguan (sianosis)
–          Kadang-kadang ada cairan dari mata dan hidung.
–          Pembengkakan di daerah muka dan kepala.
–          Pendarahan titik (plechie) pada daerah dada, kaki dan telapak kaki.
–          Batuk bersin dan ngorok
–          Unggas mengalami diare dan kematian yang tinggi.
2. Gejala pada Manusia
–          Demam (suhu badan diatas 380 C)
–          Batuk dan nyeri tenggorokan
–          Radang saluran pernapasan atas
–          Pneumonia.
–          Nyeri otot
CARA PENULARAN
Flu Burung dapat menular dari unggas ke unggas dan dari unggas ke manusia. Penyakit ini dapat menular melalui udara yang tercemar virus H5N1 yang berasal dari kotoran atau sekreta burung/unggas yang menderita flu burung. Penularan dari unggas ke manusia juga dapat terjadi jika manusia telah menghirup udara yang mengandung virus flu burung atau kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.
LANGKAH PENCEGAHAN
A. Pada Unggas
1. Peningkatan Biosekuriti
–    Desinfeksi alat dan fasilitas peternakan
2. Depopulasi (pemusnahan selektif) dilakukan terhadap unggas sehat yang sekandang dengan unggas sakit di peternakan tertular.
3. Disposal
Dilakukan dengan cara pembakaran dan penguburan terhadap unggas mati, kotoran, alas kandang, pakan ternak yang tercemar.
4. Vaksinasi
Vaksinasi dapat dilakukan terhadap unggas yang sehat di daerah tertular sebagai berikut
a. Ayam pedaging divaksin umur 4-7 hari dosis 0,2 ml pemberian di bawah kulit pada pangkal leher.
b. Ayam petelur dan pembibitan divaksin pada :
–          Umur 4-7 hari dosis 0,2 ml pemberian di bawah kulit pada pangkal leher.
–          Umur 4-7 minggu, dosis 0,5 ml pemberian dibawah kulit pada pangkal leher.
–          Umur 12 minggu, dosis 0,5 ml pemberian dibawah kulit pada pangkal leher atau pada otot dada.
c. Pengulangan kembali tiap 3-4 bulan dengan dosis 0,5 ml pada otot dada.
B. Pada Manusia
1. Kelompok Beresiko Tinggi (peternak dan pedagang).
a. Mencuci tangan dengan desinfektan dan mandi sehabis bekerja.
b. Menghindari kontak langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung.
c. Menggunakan pelindung diri (masker dan pakaian kerja)
d. Membersihkan kotoran unggas setiap hari
e. Imunisasi
2. Masyarakat Umum
a. Menjaga daya tahan tubuh dengan memkan makanan bergizi dan istirahat yang cukup.
b. Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu :
–          Pilih unggas yang sehat
–          Memasak daging ayam sampai suhu + 800 C selama 1 menit dan pada telur sampai suhu 640 C selama 4,5 menit.

0 comments:

Post a Comment