19.4.16

CINTA, REMAJA DAN SEKS

Cinta , Remaja dan Seks

Chusnul Rizatul Untsa

Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Remaja merupakan masa peralihan seorang individu. Pada masa ini seorang individu cenderung lebih berperilaku impulsif, dan hanya menganut lingkungan teman sebaya. Sedangkan ternyata pada lingkungan teman sebaya tidak selalu memberi dampak positif. tidak sedikit pengaruh teman sebaya yang malah menjerumuskan pada kegiatan-kegiatan yang negatif namun dianggap lumrah karna trend. Karna remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke dewasa. Maka pada fase ini individu merasa mampu melakukan sendiri, dan cenderung tidak berfikir panjang dalam bertindak. Individu dalam fase remaja bisa dibilang terlalu gegabah dan tidak brfikir jauh akan konsekwensinya. Begitu juga dalam menghadapi trend di lingkungan teman sebaya yang negatif. Mereka akan mengikuti mayoritas teman-temannya lakukan.
Pada fase remaja juga sering dikaitkan dengan masa-masa indah dalam menjalin cinta. Karna memang pada fase ini hormon cinta muncul dan lebih dominan. Sehingga jika remaja mengalami ketertarikan dengan lawan jenis merupakan hal yang wajar. Namun sayangnya disamping hal itu remaja tidak di dampingi ilmu pendidikan tentang seks yang signifikan. yang sebetulnya erat kaitanya dengan hubungan dewan lawan jenis mereka. Mereka tidak berfikir dan menyadari bahwa hormon yang memicu jatuh cintanya itu hanya bertahan dalam beberapa waktu saja, sedangkan selebihnya membutuhkan komitmen yang kuat. Karna ketidak tahuannya itu maka tidak jarang bahwa para wanita rela merelakan keperawanannya kepada sang kekasih. Tanpa berfikit panjang bagaimana konsekwensi dari perbuatan yang telah mereka lakukan tersebut.
Berhubungan seks dalam hubungan pacaran akan berdampak cukup panjang dan tidak berkesudahan. Mulai dari kehilangan keperawanan oleh orang yang belum tentu suami / istri kita. Belum lagi jika terjadi kehamilan. Jika kehamilan dalam sebuah rumah tangga yang normal adalah anugerah namun sebaliknya pada hubungan pacaran ini merupakan musibah. Jika awal kehadirannya buah hati saja sudah dikonatiskan sebuah musibah maka yang akan terjadi nantinya bukan hanya bencana, terutama untuk senag perempuan.
Dampak untuk perempuan yang hamil diluar nikah tentu saja labeling dari lingkungan sekitar. Labeling berarti ia akan mendapat tekanan dari lingkungannya. Bisa menyebabkan stress pada si perempuan. Tentu ia akan kehilangan karir pendidikannya karna saat ia hamil ia tidak mungkin melanjutkan sekolahnya. Stress akan berlipat lagi ketika dihadapkan untuk terpaksa menikah dengan pacar. Jika sang pacar belum dewasa atau masih sama-sama remaja maka yang rumah tangga mereka belum sepenuhnya matang, secara fisik maupun finansial. Si perempuan akan merasa terbebani selama mengandung dan sampai melahirkan. Stress akan lebih bertambah jika ia menanggung tanggung jawab untuk secara tiba-tiba terpaksa mau tidak mau akan menjadi Ibu untuk anak yang baru ia lahirkan. Dengan usia yang terbilang cukup matang maka perkembangan keduanya juga akan terpengaruh.
Maka dari itu pentingnya pendidikan seks pada remaja memang sangat dibutuhkan. Bisa dimulai dari komunikasi keluarga sebagai lingkungan terdekat remaja. Karna modelling dari keluarga juga bisa jadi menjadi faktor kenakalan remaja. Terpengaruh perilaku orang tua yang negatif atau aturan dan fasilitas orang tua. Sebaiknya komunikasi yang intern dan baik bisa dilakukan oleh orang tua dengan anak. Dan pengawasan yang wajar akan membantu membimbing anak agar tidak terpengaruh dunia bebas pergaulan. Penerapan norma-norma agama sejak dini juga perlu diterapkan untuk mengimbangi teknologi yang kian canggih untuk para remaja. Setidaknya bekali dengan iman yang kuat supaya mampu menolak akses-akses menuju pergaulan bebas yang dampaknya idak berkesudahan.

Sumber :
Materi Studium Generall Oleh Hartosujono (2016)


0 comments:

Post a Comment