30.3.16

"Saya harus bekerja dek, tidak ada cara lain"

Chapter 1

Nurul Hidayah 
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45

Jum’at lalu, saya menemui seorang Ibu penjual gorengan dirumahnya yang beralamat didaerah Semaki. Umurnya saya tidak tahu pasti, tetapi guratan diwajahnya memberi tahu bahwa beliau sudah tidak muda lagi meskipun beliau baru memiliki satu anak yang berusia sekitar 16 tahun.

Beliau berjualan gorengan dan kue sus yang dititipkan dibeberapa kopma milik beberapa kampus didaerah Yogyakarta, diantaranya Kopma UAD, Kopma UTY dan Kopma YKPN.  Biasanya beliau membeli bahan-bahan untuk membuat dagangannya pada sore hari sebelumnya dan pada keesokan harinya, tepatnya waktu shubuh beliau mulai mengolah bahan-bahan tersebut. Kemudian sekitar pukul 08.00 beliau mulai berangkat ke kopma-kopma kampus untuk menitipkan gorengannya. Sore harinya beliau datang lagi ke kopma-kopma untuk mengambil uang hasil penjualan gorengannya, gorengan yang masih tersisa tidak beliau bawa kembali tetapi diberikan kepada petugas kopma.

Gorengan tersebut beliau hargai Rp 1.200,00 per pcs dan untuk kue sus seharga Rp 1.300,00 per pcs, biasanya dijual kembali oleh kopma seharga Rp 1.500,00.
Ketika ditanya soal keuntungan perhari, beliau tidak menjawab dengan pasti. Beliau hanya mengatakan bahwa hasil penjualannya setiap hari ia pisahkan untuk modal, sisanya ia bagi lagi untuk keperluan hari itu dan kalau masih ada sisa ia simpan untuk keperluan jangka panjang.

“Kalau kampus pada libur gitu berasa banget dek bingungnya” tuturnya kepada saya. Tapi beliau tetap mensyukurinya dan tetap merasa cukup. Berbeda ketika liburan hari raya, beliau mengais rejeki dengan membuat kue semprong, beliau hanya membuatnya ketika hari raya saja dan beberapa kali ketika mendapat pesanan untuk acara tertentu.  Beliau bercerita bahwa hari raya tahun lalu beliau membuat banyak kue semprong, hal itu tak lepas dari bantuan seorang mahasiswa yang berkeliling membantu menjualkan kue semprong buatannya, sangking banyaknya sampai-sampai beliau kewalahan memenuhi permintaan pembeli.


Beliau mengaku sudah bertahun-tahun berjualan gorengan, hal itu ia tekuni untuk membiayai keperluan sehari-hari karena suaminya tidak bekerja. Menurut pemaparan beliau, suaminya pernah bekerja namun hanya sebentar dan sekarang tidak mau lagi bekerja. “Bapak itu kebiasaan dimanja sama orangtuanya dulu, jadi ga biasa mandiri” bahkan menurut ceritanya, suaminya pernah memarahinya ketika beliau meminta suaminya bekerja lagi. 

"Saya harus bekerja dek, tidak ada cara lain", beliau juga menasehati saya, bahwa perempuan tetap harus bekerja, setidaknya memiliki kemampuan bekerja untuk membekali diri agar suatu saat ketika suami kita tidak bisa memenuhi kebutuhan kita, kita masih bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri dan anak kita.   

0 comments:

Post a Comment