19.3.16

RINGKASAN ARTIKEL : KIAN SEJAHTERA DENGAN JAMUR

Kian Sejahtera Dengan Jamur


Nurul Hidayah
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Besarnya kebutuhan jamur tiram di pasaran dan sedikitnya pasokan jamur dari petani membuat peluang besar untuk budidaya jamur tiram di Palangkaraya. Budi Yanto, mengawali budidaya jamur tiram sekitar tahun 2006 ketika usahanya dibidang mebel mengalami kebangkrutan, Ia belajar teknik budidaya jamur dari Suharyoso yang bekerja di Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah.
Awalnya ia menyewa tempat untuk dijadikan kumbung (rumah jamur) dan mendatangkan bibit jamur dari Surabaya dan Mojokerto, namun banyak yang mati karena tidak sesuai dengan suhu di Palangkaraya, akhirnya Budi belajar pada Asosiasi Pembudidaya Jamur Indonesia di Jakarta dan mendatangi langsung petani-petani  di beberapa daerah di Jawa Barat.
Akhirnya Budi mengembangkan sendiri pembibitan jamur di Palangkaraya mengunakan metode kultur jaringan, jaringan diambil dari tubuh jamur lalu ditumbuhkan di potatoes dextrose agar (PDA) prosesnya sekitar 25-30 hari kemudian diturunkan menjadi bibit jamur F0, F1, F2. Budi memanfaatkan serbuk kayu meranti bekas pengrajin kayu dalam pembibitan, karena tidak banyak mengandung getah seperti yang terdapat dibeberapa jenis kayu lain yang justru mematikan bibit jamur. Dalam seminggu Budi membutuhkan sedikitnya 120 karung serbuk kayu dengan berat 50kg per karung dengan harga Rp 1.500 per karung.
Alhasil, Jamur produksinya di Palangkaraya dengan pembibitan dalam kondisi kering bisa bertahan sampai tiga hari, berbeda dengan jamur dengan bibit dari Jawa Timur yang memiliki kadar air lebih banyak sehingga tidak tahan lama dalam kondisi kering. Saat ini dengan dua rumah jamur Budi bisa memproduksi 10 kg jamur tiram putih per hari, Budi juga membudidayakan jamur tiram kuning, jamur kuping dan jamur lingzhi selain itu Budi juga memproduksi bibit jamur dan baglog dengan harga Rp 4.000 per buah yang dipasarkan hingga ke 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, Banjarmasin, dan Kalimantan Selatan. Budi juga menyediakan bibit murni atau F0 dengan harga Rp 300.000 per tabung serta bibit perbanyakan F1 dan F2, dalam sebulan omzet Budi mencapai Rp 32.000.000 dengan keuntungan 30 persen.
Kini dirumahnya terdapat 14 pekerja yang berusia sekitar 17-25 tahun, sebagian besar mereka putus sekolah di tingkat SD atau SMP karena pergaulan yang tidak sehat. Budi menemui mereka di warnet dekat rumahnya kemudian mengajak mereka dan melatih mereka membuat baglog, dengan jam kerja sekitar 6 jam per hari mereka mendapat upah Rp 450.000 per pekan. Budi juga melatih Ibu-Ibu disekitar rumahnya mengolah jamur menjadi bakso jamur, nugget jamur dan jamur crispy.
Upayanya diapresiasi Dinas KehutananProvinsi Kalimantan Tengah kemudian rumahnya kini dijadikan Lembaga Pelatihan dan Pemagangan Usaha Kehutanan Swadaya Wanawiyata Widyakarya. Budi sering memberi pelatihan ke sesama petani jamur, mahasiswa-mahasiswa, bahkan pernah melatih mahasiswa luar negeri yang diprakarsai Universitas Palangkaraya dan Universitas Hokkaido Jepang.


Sumber Tulisan : Megandika Wicaksono, (2016),  Kian Sejahtera Dengan Jamur, Kompas, 12 Maret 2016 

0 comments:

Post a Comment