15.3.16

PERJALANAN SI “CINTA” YANG BEGITU SINGKAT



(Hasil Mengikuti Studium General : Pendidikan Seks dalam meningkatkan perilaku seksual sehat )
Sri Mulyaningsih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi ‘45

Cinta adalah satu kata keramat yang mudah sekali diucapkan banyak orang. Aku cinta kamu, abang cinta adek, bunda cinta kalian semua, dan lain sebagainya. Namun pernahkan kita bertanya pada diri kita sendiri. Kenapa kita bisa merasakan cinta ?.

Pada Studium General yang diadakan Fakultas Psikologi, 27 Februari 2016 lalu. Bapak Hartosudjono, S.Psi., SE., M.Si., memaparkan hal yang sangat menarik, yaitu mengenai Hormon Cinta.  Penelitian menunjukan bahwa, ada proses atau tahapan yang dialami tubuh kita sehingga kita bisa merasakan sebuah rasa cinta. Menurut Helen Fischer seorang “peneliti cinta” di Universiti Boston, Amerika Serikat, cinta timbul karena
kerja sejumlah hormon yang ada dalam tubuh, khususnya hormon yang diproduksi otak. Hormon itu terkenal dengan sebutan hormone cinta. Gelora cinta manusia yang meluap-luap tidak jauh berbeda dengan reaksi kimia. Rasa tergila-gila yang muncul pada awal-awal jatuh cinta disebabkan oleh aktivasi dan pengeluaran komponen kimia spesifik di otak, berupa hormon dopamin, endorfin, feromon, oxytocin, neuropinephrine yang membuat seseorang merasa bahagia, berbunga-bunga dan berseri-seri.  Hormon-hormon itu sangat baik untuk tubuh dan mempengaruhi kesehatan seseorang karena bisa membuat aliran darah lebih lancar, denyut jantung lebih stabil, rileks dan perasaan lebih bergairah dan bersemangat.
 
Jika dipikirkan, bagaimana hormon dalam otak bekerja, ketika seseorang sedang jatuh cinta? Ketika hubungan mata sedang berlangsung, tertanam suatu `kesan’. Inilah fase pertama. Otak bekerja bagaikan komputer yang menyediakan sejumlah data, dan menserasikannya dengan sejumlah data yang pernah direkam sebelumnya. Ia mencari apa yang membuat pesona itu muncul. Kalau sudah begini, bau yang ditimbulkan oleh lawan jenis pun boleh menjadi pemicu timbulnya rasa romantik. Fase kedua, yaitu munculnya hormon phenylethylamine (PEA) yang diproduksi otak. Inilah sebabnya ketika terkesan oleh seseorang, secara automatis senyum pun dilontarkan. Spontan, pusat PEA pun aktif bekerja ketika “wisel” mula diaktifkan. Hormon dopamine dan norepinephrine yang juga terdapat dalam saraf manusia, turut mendampingi. Hormon-hormon inilah yang menjadi pemicu timbulnya gelora cinta. Setelah dua tiga tahun, efektiviti hormon-hormon ini mula berkurang. Fase ketiga yaitu ketika gelora cinta sudah reda. Yang tersisa hanyalah kasih sayang. Hormon endorphins , senyawa kimia yang identik dengan morfin, mengalir ke otak. Sebagaimana efek yang ditimbulkan dada dan sebagainya, saat inilah tubuh merasa nyaman, damai, dan tenang.

Rasa cinta hanya akan bertahan hingga 4 tahun saja. Lalu, kenapa sering kita dengar laki – laki menggombal, Aku cinta padamu sampai kapan pun. Benarkah hal ini ?. Memang, pemacu semburan cinta (PEA) tadi, memiliki pengaruh kerja yang tidak tahan lama. Hormon yang secara ilmiah memiliki kesamaan dengan amfetamin ini, hanya efektif bekerja selama 2-3 tahun saja. Lama kelamaan, tubuh pun bagaikan imun, `kebal’ terhadap si pemicu gelora. Akan tetapi, menurut Diane, proses jatuh cinta itu tidak semata-mata hanya dipengaruhi hormon dengan reaksi kimianya. Apalagi dalam proses orang bercinta hingga menikah, banyak faktor sosial lainnya yang menentukan. Contohnya proses jatuh cinta yang dalam bahasa jawa dipanggil versi Tresno Jalaran Soko Kulino” yang bermaksud datangnya cinta karena pertemuan yang berulang-ulang “. Demikian pula ketika kita marah dan ingin memaki orang lain, hormon memang punya pengaruh khusus, namun tetap ada faktor lain yang ikut menentukanya

Singkat dan mudahnya kita merasakan cinta. Keadaan alamiah dari dalam diri yang membuat hidup penuh dengan rasa. Sudahkah anda mersakan cinta ?

Sumber :

Handout materi Studium General : Pendidikan seks guna meningkatkan perilaku seksual sehat, Fakultas Psikologi Universitas ‘45




0 comments:

Post a Comment