11.1.16

Seni Damar Kurung, Budayakan!




Oleh: Nunuk Priyati
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

            Jika di negaranya orang-orang memberi warna pada mug, gelas atau gerabah, di Indonesia Linh Katrina asal Vietnam memberi warna pada gambar di atas kertas yang akan dibuat Damar Kurung. Damar kurung yang dibuatnya mirip lampion berbentuk kotak. Namun menurutnya, damar kurung tersebut lebih bagus karena gambarnya warna-warni di empat sisi yang berbentuk kotak seperti sangkar burung.
            Bagi Mam Yanni, mahasiswa jurusan Psikologi asal Kamboja, membuat damar kurung menjadi hal yang seru. Bahkan, Re Mush asal Thailand membubuhkan namanya pada damar kurung yang dibuatnya. Masing-masing dari mereka, membawa pulang karya mereka sendiri.

            Para mahasiswa itu ada yang ikut pertukaran mahasiswa, ada pula yang langsung menempuh study program sarjana. Mereka sengaja dilibatkan dalam kegiatan agar turut mengenalkan Indonesia dan budayanya termasuk yang ada di Gresik. Sebelumnya mereka hanya tahu Indonesia identic dengan Bali atau Yogyakarta.
            Novan Effendy, pemberi materi work shop  damar kurung menyatakan bahwa seni damar kurung Gresik muncul terkait tradisi penyambutan Ramadhan hingga lebaran. Ada kebiasaan warga di Gresik menyalakan damar kurung (semacam lampion) untuk menyemarakan ramadhan hingga lebaran.
            Seni damar kurung sudah seharusnya dipertahankan. Sejak dulu, damar kurung dinyalakan di depan rumah sepanjang ramadhan hingga lebaran. Lukisannya bercerita tentang budaya dan keseharian masyarakat. Sri Wati alias Mbah Masmundarilah dengan karyanya yang khas mampu membawa lukisan damar kurung hingga dikenal di tanah air. Bahkan seni damar kurung telah menghiasi lampion penerangan jalan dan taman kota gresik.

Daftar Pustaka:
Kiswaran, AS. (2015). Mahasiswa asing kagumi “damar kurung”: Kompas, sabtu 19 september 2015 hal 24

0 comments:

Post a Comment