1.1.16

"Bulding A Relationship That Matters"



Jati Pramono
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



KONON, dalam sebuah diskusi antara orang-orang keren yang diceritakan ole sahabat baru saya. Frans Sugiarta, muncul sebuah pertanyaan tentang apa yang menjadi problem terbesar umat manusia pada abad ke-21 ini. Boleh menyebut jawaban apapun, tetapi hanya satu yang dianggap sebagai titik awal seluruh tantangan terbesar kita saat ini. Jika pertanyaan tersebut diajukan kepada saya, hampir pasti jawabannya akan serupa dengan berita-berita yang seringkali mendominasi halaman muka surat kabar seperti pendidikan, pemerataan kekayaan, sumber daya manusia, kemiskinan, atau lingkungan hidup. Kira-kira apa jawaban Anda?


Profesor Kambiz Maani dari Universitas Massey, Auckland, Selandia Baru menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang bisa jadi terasa aneh bagi kita. Bagi Profesor Maani, problem terbesar yang dihadapi manusia pada abad ke-21 adalah soal kualitas hubungan (the quality of relationship). Aneh kan? Sebelum Anda juga mengernyitkan dahi terlalu lama seperti saya, elaborasi jawaban Profesor Maani secara lebih kontekstual tercermin dalam 3 angka ini: 1,5 | 2,5 | 3.

The biggest problem we are facing in the 21st century is the quality of relationship – Prof. Kambiz Maani. 1,5 adalah besaran atau kecepatan uamat manusia mengkonsumsi sumber daya alam yang dihasilkan bumi. Artinya, saat ini, kita telah menghabiskan 1,5 lebih banyak atau lebih cepat dari segala hal yang disediakan oleh planet bumi hanya satu ini. Bisa diartikan juga kalau kita sebenarnya telah mengambil porsi generasi mendatang dengan mengatasnamakan kebutuhan. Angka 2,5 dalam satuan miliar adalah jumlah manusia menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang/organisasi/negara lain. Mereka tidak punya akses untuk air bersih, tempat tinggal dan pengobatan standar. Angka 3 adalah peningkatan jumlah orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dalam satu dekade terakhir. Ketiga angka ini adalah refleksi telah rusaknya hubungan (relationship) umat manusia dengan planet ini, hubungan antarnegara, antarorganisasi, dan antarmanusia.

It has become appallingly obvious that our technology has excedded our humanity – Albert Einstein. Pada satu sisi teknologi mendekatkan yang jauh, tetapi juga sekaligus menjauhkan yang dekat. Teknologi membuka banyak peluang tahu dengan cepat dan instan, tetapi mempersulit ruang untuk sadar, paham, dan peduli.

Keep the right kind of people in your orbit. Membina hubungan perlu investasi waktu dan perhatian. Hubungan yang tepat dengan orang yang tepat bakal punya pengaruh luar biasa untuk proses tumbuh kembang diri dan dalam memunculkan karya bersama. 

Dan, sebaliknya juga berlaku. Definisi orang yang tepat adalah mereka yang berperan menjadikan diri lebih baik, lebih sabar, lebih berenergi, lebih sabar, dan lebih keren.

Profesor Maani dengan jernih telah melihat problem paling mendasar bagi umat manusia saat ini. Sebagai khalifah di muka bumi, manusia adalah satu-satunya spesies yang mempunyai kekuatan untuk menghancurkan atau memperbaiki planet ini dan segenap makhluk yang hidup di dalamnya. Diawali dari hubungan baik yan terpelihara dengan Sang Pencipta, dengan diri sendiri, dan sesame akan uncul pola baru dalam menumbuhkembangkan satu sama lain dan merawat planet Bumi beserta seluruh isinya. Bagaimana mengawalinya? Well, the only currency in building relationship that matters is called sincerity. Are you being sincere in living?


Sumber Tulisan:
Suhardono, Rene. 2015. Building A Relationship That Matters. Kompas, 21 Oktober. 

0 comments:

Post a Comment