1.1.16

"ANDA PUNYA PRINSIP"



Jati Pramono
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta



BEBERAPA hari lalu, banyak beredar broadcast message yang berisi tentang tipe baru digital narcotic yang bisa diakses dari smartphone dalam bentuk aplikasi. Terlepas dari apakah benar aplikasi gelombang suara ini dapat menimbulkan efek kecanduan layaknya narkoba, hal ini tetap saja meresahkan para orang tua mengingat hamper semua anak saat ini memiliki smartphone yang memungkinkan mereka mengakses aplikasi ini.


Bagaimana para orang tua dapat membentengi ananya dari pengaruh lingkungan seperti ini? Rasanya sudah cukup banyak batasan yang dibuat para orang tua bagi anak-anaknya sekarang ini untuk menghindari beragam tindak kejahatan. Pertanyaannya, apakah oang tua juga harus melarang anaknya menggunakan smartphone, padahal alasan mereka mengizinkan anaknya menggunakan smartphone juga agar mereka dapat memantau keberadaan anaknya diantara segudang kesibukan. 

Nilai hidup dan prinsip kuat yang ditanamkan oleh para orang tua kita berfungsi layaknya perisai yang melindungi diri dari godaan-godaan lingkungan.

Mahatma Gandhi mengatakan, “If there is no principle, there is no true, north, nothing you can depend upon”. Beliau pun menekankan bahwa yang disebut dengan prinsip sebenarnya adalah prinsip individu, terlepas dari pandangan politik atau nilai sosial disekitarnya. Prinsip mendasar inilah yang digunakan dalam pengambilan keputusan, baik perusahaan maupun politik. Bila tidak, kita bisa terjebak pada keyakinan-keyakinan, yang bisa jadi dikemas dengan misi dan visi bersama organisasi.

Contoh kebobrokan mental yakni tindak penggunaan uang negara untuk urusan yang tidak urgen, yang di media massa bahkan diberi pembenaran yang nyata-nyata janggal. Atau, pelanggaran yang dilakukan dengan alasan keuntungan perusahaan, yang merusak dan merugikan public yang lebih luas oleh orang-orang yang tadinya sangat kita respek.

Membangun pribadi berprinsip
Dalam dunia digital ini semua orang bebas bersuara, bebas berpendapat, baik secara terbuka maupun secara anonim. Arus informasi begitu simpang siur sehingga batas antara benar dan salah kadang menjadi demikian kabur. Penerimaan publik yang kadang dilihat dari berapa jumlah like yang diperoleh bisa jadi mengambil alih kebenaran yang seharusnya ditegakkan.

Berprinsip di tengah pusaran perkembangan zaman
Banyak orang menyamakan dan bahkan mengecap orang yang berprinsip sebagai individu yang konvensional dan tradisional, alias kuno. Pandangan seperti ini membuat kita terjebak dalam kesenjangan antara orang yang berprinsip dengan perkembangan dunia teknologi, ekonomi, dan politik yang berubah dengan cepat ini. Steve Covey mengemukakan, pemimpin yang berprinsip, selalu belajar tanpa lelah, bertanya, dan berdiskusi. They discover that the more they know, the more they realize they don’t know. Mereka perlu menguji terus menerus prinsipnya ketika menghadapi konflik-konflik sehari-hari.


Sumber Tulisan:
Rachman, Eileen dan Jakob, Emilia. 2015. Anda punya Prinsip. Kompas, 24 Oktober.


0 comments:

Post a Comment