27.12.15

Ringkasan Artikel 2: dr Inu Wicaksana, Citra Tubuh yang ‘Buruk’
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Body image atau citra tubuh adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya sendiri, bagaimana dia mempersepsikan dan menilai atau apa yang dia pikir dan rasakan terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, dan bagaimana menurut dia penilaian orang lain terhdapa dirinya. Citra tubuh kebanyakan merujuk pada estetika atau kecantikan, dan sexual attractiveness. Sesungguhnya pa yang mereka pikirkan dan rasakan itu belum tentu benar-benar mempresentasikan keadaan yang objektif aktual, tetapi hanya penilaian diri yang subjektif.
Contoh kasus body image, seorang mahasiswa dari Magelang menyatakan dirinya secara fisik terlalu buruk untuk tampil bicara di depan teman-temannya sendiri pada ujian pendadaran, sehingga dia tidak berani maju mengikuti ujian. Untuk kerja praktik di lapangan tidak menjadi masalah, demikian juga praktikum di laboratorium. Tetapi berbicara di depan publik merupakan hambatan besar baginya. Ia juga tidak berani mendekati teman-teman perempuannya karena merasa dirinya terlalu buruk sebagai laki-laki. Ia mempunyai body image yang sangat buruk pada dirinya sendiri.

Solusi untuk masalah tersebut yaitu kita harus mempunyai citra tubuh yang positif, yang langsung berhubungan dengan harga diri dan kepercayaan diri. Citra tubuh mempengaruhi perilaku, harga diri dan mental seseorang. Untuk membuat citra diri yang positif antara lain adalah:
1.    Sejak kecil harus dididik bahwa anak itu adalah anak yang baik (cantik, bagus) dengan pujian dan kasih sayang. Jangan pernah mengatakan kepada anak buruk rupa, jelek, cacat, dan sebagainya.
2.    Bentuk tubuh dan bagian-bagiannya meski itu genetis dari orang tua, tapi kesemuanya itu adalah karunia Tuhan yang harus diterima dengan senang hati (ikhlas), meyakini bahwa Tuhan memberikan kekurangan dan keburukan maka Tuhan punpasti memberikan kebaikan-kebaikan.
3.    Meyakini bahwa orang banyak melihat seseorang bukan pada detail atau bagian-bagian tubuh tetepai penampilan tubuh dan perilaku secara keseluruhan.
4.    Tidak perlu terus menerus membandingkan tubuh kita dengan citra tubuh ideal di masyarakat, karena hal tersebut adalah relatif dan tidak menjamin kebahagiaan.
5.    Rajin merawat diri sampai tua secara serasi karena hal tersebut mampu memberika kesan baik bagi orang lain yang melihat dan memberikan kepuasan bagi kita.
6.    Rajin berolahraga teratur kerena kesegaran fisik akan memancarkan semangat, kegembiaraan dan kegairahan hidup dan tentu saja penilaian positif orang lain terhadap penampilan fisik kita yang berakibat citra tubuh yang positif bagi kita.
Sumber Tulisan

Kedaulatan Rakyat. (2012). Konsultasi Kesehatan Jiwa: Citra Tubuh yang ‘Buruk’. Kompas, 8 Januari

0 comments:

Post a Comment