27.12.15

Ringkasan artikel: Survival of the Fittes



Restu Wahyuningtyas
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Istilah survival of the fittes merujuk pada seleksi alam makhluk hidup menghadapi evolusi, dan tampaknya masih relevan saat ini namun dalam konteks yang berbeda. Individu yang paling fit adalah mereka yang tahan dalam menghadapi badai perubahan sosial dan teknologi yang tidak kenal ampun. Fakta yang sudah ada adalah perusahaan besar yang banyak mengalami kemunduran, ‘dihajar’ oleh perusahaan berbasis digital dan komunitas tanpa armada.
Keadaan seperti ini dalam istilah kemiliteran disebut dengan VUCA yaitu volatile, uncertain, complex, dan ambiguous. Volatility adalah perubahan tak terprediksi sama sekali dan tidak tentu arah. Uncertain adalah hal berar yang disruptive datang dengan irama tidak terduga dan bertubi-tubi. Data lama tidak bisa digunakan lagi karena keadaan dan realita sudah berbeda sama sekali. Complexity adalah sebab akibat terjadi bukan antara dua faktor atau dua keadaan saja namun banyak faktor yang berinterelasi satu sama lain. Ambiguity yaitu pertanyaan who, what, where, when, how dan why yang sulit dijawab dengan tepat karena banyak hal yang tidak memiliki deskripsi yang pasti.

Peter Fisk dalam bukunya Gamechanger menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang mampu mengubah bisnis dunia ini adalah perusahaan yang sukses mendahului perusahaan-perusahaan lain. “See sooner and scan wider”. Bermain ditengah keadaan disruptif ini kita harus bisa melakukan keduanya sekaligus dalam satu waktu, karena percepatan kemajuan yang sangat luar biasa. Sudah menjadi tugas setiap orang untuk membuka mata lebar-lebar terhadap keadaan pasar dan mengajak organisasi berubah. Organisasi perlu adaptif,mengganti kebiasaan-kebiasaan dan siap menambah kapabilitas.
Mindset status dalam organisasi dan power memang perlu dilengserkan, karena organisasi para gemechanger selalu sedemikian dinamis sehingga tidak berstruktur seperti dulu. Setiap orang perlu bersikap ambisius dan cool terhadap perubahan artinya bersikap tenang tapi terus bergerak.  Jumlah pemimpin harus diperbanyak dalam arti setiap orang perlu menyadari kewajibannya untuk meningkatkan beberapa kualitas yang dulu disangka hanya merupakan domain pemimpin.  Selain itu diperlukan juga berkomunikasi, berbahasa, berorganisasi secara simpel tetapi dengan gaya baru. Pergeseran mindset-nya adalah diri yang “merasa benar” menjadi sosok yang selalu siap menavigasi, berorientasi dan bertindak dalam sesaat.
Sekarang tinggal kita mau memilih apakah mau ikut bermain di tengah keadaan disruptif atau bengong menunggu dan tetap menikmati sisa-sisa kejayaan di masa lalu. Managing complexity is a battle between emergence and entropy.

Sumber:
      . (2015). “Survival of the fittes”. Kompas edisi 5 Desember hal.32

0 comments:

Post a Comment