27.12.15

Ringkasan Artikel: Mau jadi rajawali atau ayam?



Restu Wahyuningtyas
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Potensi yang dimiliki oleh setiap individu sangat beragam. Ketika individu tersebut ingin maju dengan potensi yang telah dimiliki maka dia harus mampu mengembangkan potensi tersebut. Begitu banyaknya potensi yang dimiliki, akan terasa sulit untuk dikembangkan secara keseluruhan meskipun bukan berarti tidak mungkin. Seperti sebuah kisah telur elang yang dierami oleh ayam berikut ini.
Seorang petani pergi mendaki bukit cadas yang curam. Pada puncak bukit itu, ia melihat sarang burung yang besar dengan sebutir telur di dalamnya. Ia mengambil dan membawa pulang telur itu.Sesampainya di rumah, ia meletakkan telur itu di kandang induk ayam peliharaannya yang sedang mengerami telurnya. Tak lama kemudian telur-telur itu menetas dan lahirlah seekor bayi rajawali yang gagah di tengah anak-anak ayam yang lucu.
Induk ayam mengasihi dan membesarkan bayi rajawali bagaikan anaknya sendiri. Tidak ada yang pernah menanyakan mengapa rajawali itu badannya lebih besar, cakarnya lebih tajam, paruhnya lebih kuat dan sayapnya lebih lebar daripada seluruh ayam di peternakan itu. suatu hari, saat sedang mematuk-matuk mencari serangga dan cacing di tanah, rajawali yang merasa dirinya ayam menengadah ke atas dan melihat seekor burung yang dengan gagahnya terbang di angkasa. Ia pun bertanya pada ayam lain, “burung apakah itu?betapa gagahnya ia terbang melintasi awan!, andaikan aku bisa seperti dia”. Seekor ayam jantan menjawa, “itu adalah rajawali, hewan paling perkasa di udara, raja segala burung dan unggas. Dan kamu, jangan bermimpi saudaraku. Kita ini ayam, tidak ditakdirkan untuk bisa terbang dan menjadi pengasa langit seperti rajawali”. Sang rajawali pun mengangguk dan kemudian melanjutkan mematuk-matuk tanah. Rajawali yg merasa diriny ayam itu terus hidup sebagai ayam hingga tua dan mati. Dia tidak pernah menyadari bahwa dirinya ditakdirkan menjadi penguasa angkasa.
Dalam dunia nyata, banyak terjadi kisah seperti rajawali itu. Bany orang yang sebenarnya memiliki potensi diri yang bagus namun tidak dikembangkan. Kebanyakan mereka mengatakan,”sudahlah, jangan mimpi terlalu tinggi. Kita harus tahu diri, siapa kita ini.” Individu seperti ini sebenarnya mampu menjadi unggul, tetapi memilih untuk tetap menjadi ayam. Kemampuan bertumbuh, berkembang dan berkarya dalam diri mereka ini sebenarnya ada namun kemampuan itu berhenti karena mereka ‘percaya’ bahwa mereka tidak mampu.
.benar ingin mengetahui potensi diri, kadang kita harus menemukan orang yang tepat yang mampu mengajari kita untuk tumbuh, berkembang dan berprestasi. Hanya dengan percaya diri bahwa dirinya mampu untuk maju, maka berbagai potensi diri akan dapat berkembang.

Sumber:
Kosasih, S. (2015). Mau jadi rajawali atau ayam?. Kompas edisi 3 Desember hal.37

0 comments:

Post a Comment