31.12.15

Pemilihan Warna Pakaian pada Anak merupakan Salah Satu Bentuk Pembelajaran Teori Sosial

Restu Wahyuningtyas
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Pada masa sekarang anak-anak sudah mulai dibedakan antara laki-laki dengan perempuan. Bahkan sejak bayi pembedaan sudah mulai dilakukan seperti misalnya pemilihan warna baju untuk anak perempuan lebih pada warna yang lembut seperti merah muda, kuning. Sedangkan pada anak laki-laki, orang tua mulai memilihkan warna-warna yang lebih berani seperti merah, biru. Perilaku orang tua memilihkan warna-wana baju merupakan sarana untuk mengajarkan pada anak tentang peran gender. Perempuan digambarkan sebagai seseorang yang feminin sedangkan laki-laki digambarkan sebagai seseorang yang maskulin. Hal itu merupakan keyakinan unik kita tentang atribut suatu kelompok orang seperti kelompok wanita dan pria. Keyakinan yang seperti itu merupakan personal stereotype (Taylor, Peplau dan Sears, 2009).
Berdasarkan teori pembelajaran sosial (social learning theory) yang dikemukakan dalam Huffman, Vernoy dan Vernoy (1997), para ahli teori pembelajaran sosial mempercayai bahwa perempuan belajar menjadi feminine dan lelaki belajar menjadi masculine dilatarbelakangi oleh dua hal. Pertama, anak-anak menerima reward dan punishments mengenai perilaku spesifik peran jender. Seperti misalnya pada anak perempuan, ketika mereka mengenakan baju-baju warna yang lembut seperti merah muda maka orang-orang dewasa disekitarnya akan sering memberikan barang-barang lain dengan warna yang senada. Hal ini merupakan bentuk dukungan kepada anak untuk menjadi seorang yang lemah lembut sesuai dengan anggapan bahwa warna merah muda adalah warna yang lembut.
Kedua, anak-anak mengimitasi perilaku dari orang lain (Bandura, 1989; Jacklin, 1989, Maccoby dan Jacklin, 1974; Tavris, 1992 dalam Huffman, Vernoy dan Vernoy, 1997). Terdapat beberapa faktor menentukan apakah seseorang akan belajar dari suatu model atau tidak (Feist & Feist, 2010). Salah satunya adalah karakteristik model sangat penting. Dari uraian mengenai pemilihan warna pakaian pada anak oleh orang tua diatas, orang tua adalah sebagai model anak dalam melakukan imitasi perilaku. Misalnya ketika ibu yang merupakan orang tua perempuan mengenakan pakaian dengan warna yang lembut, maka anak perempuannya juga akan memilih warna-warna lembut. Selain itu perilaku imitasi juga diperoleh dari pembiasaan orang tua ketika anak masih dipilihkan warna-warna tertentu untuk pakaiannya.
Pengendalian yang mungkin dilakukan adalah orang tua mengajarkan pada anaknya tentang sifat feminine dan masculine. Hal ini dimaksudkan agar anak mengetahui bagaimana baiknya menjadi seorang individu laki-laki atau individu perempuan. Sesuai dengan teori pembelajaran sosial yang menekankan pada kekuatan dalam situasi yang terjadi dan perilaku-perilaku (Huffman, Vernoy dan Vernoy, 1997).
Prediksi saya ketika orang tua mampu melakukan pengendalian tersebut adalah orang tua akan menjadi model yang baik bagi perilaku imitasi dari anaknya. Karena seperti yang diungkapkan dalam teori pembelajaran sosial, salah satu yang dapat melatar belakangi anak dalam belajar menjadi feminine atau maskulin adalah dari imitasi perilaku orang lain (Huffman, Vernoy dan Vernoy, 1997).
Referensi
Huffman, K. Vernoy, M., Vernoy, J. (1997). Psychology in action.(4th ed). Canada: John Wiley & Sons, Inc.
Taylor, E. S., Peplau, L. A., Sears, D. O. (2009). Psikologi sosial edisi keduabelas. Terj. Wibowo, T. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Feist, J., Feist, G. J. (2010). Teori kepribadian (edisi 7). Handriatno (Terj.). Jakarta: Penerbit Salemba Humanika

0 comments:

Post a Comment