27.11.15

Keindahan yang terselubung di sisi keindahan yang nyata dan indah




Yudha Andri Riyanto
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Tanggal 15 November 2015, fakultas psikologi Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta mengadakan MAKRAB atau malam keakraban yang di ikuti semua fakultas di Univ kami. Tempat yang diambil oleh panitia yaitu Watu Lumbung, selatan kota Yogyakarat arah Pantai Parangtritis.
Ditempat itu saya banyak mendapatkan keindahan yang terselubung, dan bagi ku adalah tema dimana aku harus bercerita kepada semua teman – teman ku yang tahu dan belum tahu. Banyak yang harus di jadikan motivator dari keindahan alam sekitar. Ide gagasan yang cerdik oleh mbah Boy, membuat semalaman aku tidak bisa meninggalkan keindahan yang ditemani beberapa dosen dan teman – teman.
Perjuangan itu hanya sederhana, tidak perlu kita dikenal oleh semua manusia dari plosok tanah air, tapi coba kita hargai semua hasil karya indonesia dari diri sendiri terlebih dahulu. Tidak perlu kita mempromosikan apa yang kita lakukan untuk Indonesia tetapi semua itu akan berjalan seiring kesadaran orang yang melihat usaha kita, sapa teman dari salah satu teman Mbah Boy di Watu lumbung malam itu. Akhirnya mulai aku tidak sabar untuk bertanya dan memulai keakraban ku dengan aktifis hebat tersebut,

Mahasiswa 1 : wah ini lokasi strategis sekali buat mengistirahatkan otak (dengan cangki teh panas, yang di dekap dengan kedua telapak tangan)
Mahasiswa 2 : enaknya juga sambil bawa pacar atau teman untuk main gitar di pojok sana ya (tangan kanan menunjuk sebuah tempat ditepi pepohonan yang bergoyang indah)
Aktifis Hebat : haha, tapi jangan harap kalian bisa seenaknya lhoo di tempat ini (senyum lepas memandang gunung yang tepat dihadapannya)
Dosen : emang aturannya sakral banget ya pak?
Mahasiswa 3 : dipasang sisi tv mungkin ya pak ?
Aktifis hebat : tidak ada sisi tv kok, cuman kita sering mengkontrol semua pendatang yang datang kemari. Aturanya tidak sakral tapi aturan yang lebih menunjukan kebaikan pada pengunjung dan aturan – aturan yang kami sepakati
Mahsiswa 2 : apa pak ?
Aktifis hebat : ya kalau pacaran tentu kami tidak mengijinkan mereka sampai larut malam, kalau disini juga tidak boleh membawa makanan – makanan yang menimbulkan sampah dan bukan olahan tradisional. Coba kalian lihat semua warung di bawah sampai atas, tentu tidak akan kalian menemukan satu makanan atau minuman yang  biasanya di jual di warung pada umumnya. Kami mencoba menjual hasil bumi dan ternak kita sendiri, walaupun itu beli kami tetap membeli di pasar yang murni dari petani indonesia.
Mahasiswa 1 : berarti keren juga ya ? kenapa sih pak harus begitu ?
Aktifis hebat : coba kita hargai hasil bumi wilayah indonesia yang indah ini.
                Percakapan kami semakin panjang dan semakin tidak terarah, bukan karena minuman keras atau lainnya, akan tetapi semua di iringi dengan canda tawa yang tidak bisa saya tuliskan. Pada pagi hari aku dan teman teman Makrab berjalan – jalan untuk menlihat lingkungan sekitar, kami naik dan turun gunung dengan berjalan kaki. Pemandangan yang luar biasa yang saya lihat selama aku berjalan sampai bukit dan aku bisa merasakan aroma khas pedesaan yang ku kagumi. Terdapat banyak pepohonan kayu jati, ladang petani, gubuk kecil yang menjadi istana para pekerja di ladang, pakaian dan sopan santun mereka saat menghadapi kami lewat, membuat hati saya ingin menunjukan pada seluruh indonesia, bahwa orang yang seperti ini harus di jadikan pembelajaran.
                Masih banyak orang yang menganggap orang pedesaan itu sangat tertinggal dan tidak maju mengikuti jaman. Persepsi yang salah dan parah. Saat Mbah Boy menyapa kami di gubuk kayu jati, saat istirahat aku mendapat kan jawaban kenapa orang desa atau orang jaman dulu tidak mau maju. Semua itu tergantung prinsip pada individu, orang desa kuat dengan apa yang di mengerti dan secara tidak langsung mereka yang tidak berkembang itu adalah pejuang Indonesia atau pejuang untuk menjaga kelestarian Negri dan keindahan yang tidak banyak orang mengerti ini.
bersambungg.........................

0 comments:

Post a Comment