19.10.15

Training Class untuk Karyawan Baru
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

Anto (bukan nama sebenarnya) adalah seorang karyawan baru di sebuah perusahaan X di bidang food and beverages. Sebelum berhasil menjadi karyawan di perusahaan tersebut Andi telah melalui beberapa tes. Tes tersebut diantaranya adalah tes interview dengan HRD, tes tertulis, tes kesehatan dan tes dengan pimpinan cabang perusahaan. Setelah dinyatakan lolos kemudian Anto mengikuti training class yang diadakan oleh perusahaan selama tiga hari. Setelah itu Anto diterjunkan langsung di counter cabang untuk masa percobaan atau on the job training (OJT) selama dua minggu sebelum melakukan tanda tangan kontrak jika lolos tes oleh manajer. Ketika Anto mengikuti training class, trainer memberikan sejumlah materi, kemudian Anto diwajibkan untuk mencatatnya. Hal hal yang wajib diketahui dan dimengerti Anto misalnya untuk SOP dalam melayani customer, SOP pembuatan beverages, sandwich, cara penyajian untuk customer, dan sebagainya. Semua materi hanya diberikan dalam waktu dua hari dan Anto diwajibkan untuk menghafalnya. Hal tersebut dilakukan agar nantinya jika Anto diterjunkan di counter cabang Anto sudah mengerti apa yang harus Anto lakukan saat bekerja. Anto menghadapi kesulitan menghadapi hal tersebut. Anto dituntut harus mampu menghafal dan menerapkan materi yang Anto dapatkan padahal waktu yang Anto terima dalam training class hanya dua hari dan dalam dua minggu Anto diwajibkan mampu menghafal dan menerapkan  semuanya. Untuk beberapa materi misalnya menyebutkan jenis-jenis nama makanan dan minuman hanya diperlihatkan melalui gambar di buku. Untuk cara pembuatan dan cara penyajian juga tertulis di buku dan tidak ada video yang mendukung praktek pembuatan tersebut. Sehingga Anto merasa kesulitan untuk memahaminya. Tetapi semua itu harus dilakukan Anto sehingga nantinya setelah masa percobaan dua minggu Anto lolos tes dan menjadi karyawan di perusahaan X.
Dari kasus yang dialami Anto diatas merupakan salah satu kasus training untuk karyawan baru yang tidak memadai. Hal tersebut terlihat ketika Anto sebagai karyawan yang masih baru diwajibkan untuk memahami semua materi yang disampaikan beserta prakteknya. Waktu training class yang sangat singkat yaitu dua hari tentu saja memberatkan karyawan baru.  Tetapi semua itu harus dilakukan Anto sehingga Anto lolos tes dan menjadi karyawan di perusahaan X. Hal yang dilakukan Anto merupakan bagian dari faktor kognisi seseorang yang memiliki kepercayaan terhadap kemampuan yang dimiliki sehingga mampu meningkatkan rasa percaya dirinya. Untuk melaksanakan suatu kinerja secara terampil, orang perlu memiliki keterampilan yang dibutuhkan dan rasa percaya akan kemampuan diri untuk menggunakan keterampilan tersebut. Faktor kognisi yang dimaksud adalah self efficacy atau efikasi diri . Reivich dan Shatté (2002) mendefinisikan efikasi diri sebagai keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi dan memecahkan masalah dengan efektif. Efikasi diri juga berarti meyakini diri sendiri mampu berhasil dan sukses. Individu dengan efikasi diri tinggi memiliki komitmen dalam memecahkan masalahnya dan tidak akan menyerah ketika menemukan bahwa strategi yang sedang digunakan itu tidak berhasil. Menurut Bandura (1994), individu yang memiliki efikasi diri yang tinggi akan sangat mudah dalam menghadapi tantangan. Individu tidak merasa ragu karena ia memiliki kepercayaan yang penuh dengan kemampuan dirinya. Individu ini menurut Bandura (1994) akan cepat menghadapi masalah dan mampu bangkit dari kegagalan yang ia alami.
Prediksi yang diungkapkan penulis jika Anto tidak mundur dari training class dan berusaha mempelajari materi yang didapatkan maka Anto mampu mengikuti masa percobaan atau on the job training (OJT) di counter cabang dengan tidak merasa kesulitan lagi.
Menurut penulis pengendalian yang dilakukan Anto yaitu sebaiknya Anto mempelajari materi yang didapatkan agar nantinya Anto mampu menerapkannya di counter. Selain itu Anto juga harus banyak belajar dengan senior di counter saat masa percobaan atau on the job training (OJT), misalnya dengan melihat bagaimana senior menyajikan pesanan untuk customer. Hal tersebut sejalan dengan teori yang diungkapkan Bandura yaitu social learning theory . Bandura mengungkapkan bahwa individu melakukan pembelajaran dengan meniru apa yang ada di lingkungannya, terutama perilaku-perilaku orang lain. Perilaku individu terbentuk melalui peniruan terhadap perilaku di lingkungan, pembelajaran merupakan suatu proses bagaimana membuat peniruan yang sebaik-baiknya sehingga bersesuain dengan keadaan dirinya atau tujuannya.
Referensi
Winarto, Joko. 2011. Teori Belajar Sosial Albert Bandura. Retrieved from: http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-belajar-sosial-albert-bandura-346947.html pada Kamis, 12 Juni 2014
Kusumadian, Dewi. 2012. Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory). Retrieved From: http://dewikusumadian.blogspot.com/2012/11/teori-belajar-sosial-social-learning.html pada Kamis, 12 Juni 2014.






















0 comments:

Post a Comment