29.10.15

Ringkasan Artikel: Terhambatnya Penggunaan Energi Alternatif


Oleh: Nunuk Priyati
Fakultas: Psikologi
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Terhambatnya penggunaan energi alternatif dalam usaha menjadikan Jakarta sebagai kota layak huni terjadi karena warga terbiasa memanfaatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Hal ini dibahas oleh pakar lingkungan Emil Salim dalam diskusi New Lenses On Future Cities di Jakarta, rabu 17 Desember 2014. Adapun menurut pengamat tata kota Yayat Supriyatna berpendapat bahwa selain soal harga, pemanfaatan energy alternative yang ramah lingkungan, seperti bahan bakar gas (BBG), juga akan membuat kehidupan warga menjadi lebih bahagia. Perlunya perencanaan pembangunan untuk menekankan jumlah warga berpindah juga diperlukan. Mobilisasi warga membuat pemborosan dan polusi tinggi.

            Hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut ialah dengan pembangunan permukiman yang berdekatan dengan kantor atau pusat bisnis. Kalaupun perumahan warga terletak jauh dari pusat perkantoran, layanan transportasi public yang terkoneksi, efisien, aman, nyaman, murah, dan mudah diakses harus tersedia. Di samping itu, diperlukan juga penyediaan stasiun pengisian bahan bakar gas (BBG) yang memandai agar pengisian BBG tidak membutuhkan waktu yang lama karena harus mengantre.
            Terkait dengan pengolahan lingkungan kota, perkumpulan Negara  donor yang tergabung dalam Cities Devilopment Initiatives for Asia akan memberikan bantuan dua alat pengolahan sampah biodigester dan refuse derived fuel kepada kota Tangerang sebagai daerah percontohan pengolahan sampah di Indonesia.
            Hubungan artikel ini dengan Psikologi lingkungan ialah energy memang sangat membantu dalam keseharian manusia. Namun pemakaian yang berlebihan akan menyebabkan  polusi udara dan pemborosan. Sudah sepantasnya Indonesia mulai beralih pada energi alternatif seperti menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) yang membuat emisi buang lebih rendah
Sumber:

PIN. (2014). Pemanfaatan Energi Alternatif Diperlukan: Kompas, 18 Desember 2014

0 comments:

Post a Comment