20.10.15

Perilaku Atasan Yang berpotensi Menurunkan Kinerja Bawahan

Muji Pambudi
Universitas Proklamasi 45
Fak. Psikologi

Ny .ARB adalah seorang Karyawan di sebuah Rumah Sakit terkenal di yogyakarta, dia sudah bekerja  melayani klien di Rumah sakit tersebut. sebagai tugas utama adalah mengatur jadwal karyawan, mengatur pelayanan di bagian yang dipimpinnya dan melayani klien. Sedangkan atasannya adalah Ny.SR yang mempunyai sifat suka merecoki pekerjaan, otoriter juga kurang percaya terhadap kemampuan anak buahnya, selain itu atasannya juga kadang suka menyalahkan anak buahnya walaupun itu adalah kesalahan yang terjadi akibat ketidak telitiannya. Perilaku Atasan yang seperti  ini membuat suasana kerja di kantor  kadang menjadi tidak harmonis, karena disatu sisi atasan merasa yang paling tahu segalanya di satu sisi anak buah merasa sebagai objek dari kesalahan yang ada, hal ini menyebabkan motivasi dan kinerja karyawan kadang menurun , selain itu juga  tidak ada penghargaan yang di dapat dari atasan jika melakukan hal yang bagus tetapi juga tidak ada  pengarahan dari Atasannya jika karyawan melakukan sesuatu yang tidak benar. Menurunnya kinerja dan motivasi Pelayananan terhadap klien  tentu berpengaruh juga  terhadap image pelayanan di Rumah Sakit tersebut  secara keseluruhan. Kasus diatas menurut penulis  juga sesuai dengan pendapat Bandura (Walgito,1994:17) yang mengungkapkan bahwa perilaku individu,lingkungan dan individu saling berinteraksi satu dengan yang lain. Disini Aktornya adalah Ny.SR sebagai atasan di sebuah RS sedangkan tingkat interpersonal suasana kerja dikantor yang dipimpin oleh Ibu RS.
Selain itu dari hasil wawancara tersebut juga sesuai dengan pendapat Kurt Lewin seorang tokoh dalam psiokologi sosial (Fisher:1982 dalam Shinta:2002) berpendapat bahwa perilaku sosial individu sangat dipengaruhi oleh interakasi variabel individu dan juga variable lingkungannya, rumusnya yang terkenal adalah
B=f (P.E)
B menunjukkan Behavior yaitu perilaku individu. P menunjukkan Personal yaitu variabel Individu.E menunjukan environment yaitu variabel lingkungan sedang f berart fungsi. Jadi jika berdasarkan rumus tersebut bisa di sampaikan bahwa
-          Perilaku Atasan yang perfeksionis, otoriter dan kurang percaya terhadap kemampuan anak buah (B)
-          Motivasi dan kinerja anak buah  yang menurun (P)
-          Suasana kerja yang tidak harmonis ( E)
Jika mengacu pada rumus dari tersebut maka perilaku individu merupakan fungsi variable dari individu dan lingkungan dimana semuanya saling pengaruh mempengaruhi dan tidak berdiri sendiri sendiri.
Lalu bagaimanakah akibat yang  ditimbulkan dari perilaku atasan terhadap bawahan otoriter, suka merecoki pekerjaan anak buah dan tidak percaya akan kemampuan anak buah ? konsekuensi yang  ditimbulkan tentu bisa menjadi negatif  yaitu untuk tingkat individu dari anak buah, merasa sebagai objek dari kesalahan yang ada sehingga kinerja dan motivasi menjadi turun,ini  sedang konsekuensi untuk tingkat kelompok atau lingkunga primer menjadikan suasana kerja antar karyawan  tidak harmonis  sehingga pelayanan menjadi menurun pada akhirnya mempengaruhi pelayanan secara umum di Rumah Sakit tersebut. Hal ini sesuai pendapat bahwa lingkunga sosial dan lingkungan primer ini memiliki pengaruh sangat besar terhadap keadaaan  individu sebagai anggota masyarakat (Walgito,1994)
Daftar Pustaka

Walgito,B. (1994). Psikologi social:suatu pengantar. Yogyakarta: Penerbit ANDI  OFFSET
Shinta, A.(2002). Pengantar Psikologi Sosial. edisi ke-2.Yogyakarta: Universitas Proklamasi 45.

 

0 comments:

Post a Comment