31.10.15

Pengaruh Stress pada Proses dan Hasil Kerja




Oleh : Nunuk Priyati
Fakultas Psikologi
 Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Dalam dunia kerja sering kali seorang individu mengalami stres. Stress sangatlah berpengaruh terhadap proses dan hasil kerja. Apakah proses kerja akan berjalan dengan mulus dan menghasilkan sesuatu yang maksimal serta memuaskan. Stress itu sendiri didefinisikan sebagai karakteristik lingkungan yang memiliki efek ancaman bagi individu, (Scoufis, 1993). Individu yang sedang stres akan merasa cemas, tertekan, dan mengalami emosional yang tinggi atau tidak terkontrol. Keadaan yang tidak nyaman tersebut memicu adanya konsentrasi yang menurun sehingga mempengaruhi proses dan hasil kerja yang juga ikut menurun.

Stress dalam dunia kerja ini salah satunya dialami oleh rekan saya, sebut saja namanya Anita (bukan nama sebenarnya). Mba Anita ini adalah seorang staf ATK di sebuah instansi. Mba Anita mengaku mengalami stres ketika tidak dapat menghendle pekerjaannya.  Ia merasa stress ketika sudah berusaha berulang – ulang untuk menyelesaikan satu pekerjaan tetapi belum berhasil. Dengan adanya stres tersebut membuat Nita melakukan banyak kesalahan dalam bekerja yang didorong adanya emosi  yang memuncak. Hal tersebut membuat proses kerja membutuhkan waktu yang lama dan hasilnyapun kurang memuaskan.
Berdasarkan stres yang dialami mbak Nita tersebut, saya memberikan saran agar ia mendiskusikan pekerjaan yang belum mamapu dihandlenya dengan kerabat kerja atau atasan. Ia tak perlu malu ataupun gengsi untuk menyampaikan masalahnya tersebut, sehingga ia mendapatkan solusi dari kerabat kerja atau atasannya.  Seperti dalam peribahasa, malu bertanya sesat dijalan. Jadi jika sudah berulang – ulang mencoba menyelesaikan suatu pekerjaan namun belum berhasil, maka bersegeralah mendiskusikan dengan orang lain yang memahami perihal pekerjaan tersebut.
Adapun untuk mencegah dan mengurangi stres dalam bekerja, diperlukannya interaksi dengan orang lain. Selain interaksi, adanya refreshing seperti wisata bersama keluarga atau teman – teman sebaya di hari libur juga dapat mencegah atau mengatasi stress. Dan jika stress berkelanjutan dalam waktu yang panjang, akan menjadikan seseorang tidak dapat menerima sumber stres. Oleh sebab itu, perlu adanya kontrol stres itu sendiri. Kontrol stres tersebut menurut scoufis (1993) sebagai berikut :
1.      Belajar mengenali stres itu sendiri
2.      Mengenali kapan kita menghindari situasi – situasi yang menyebabkan kecemasan dan pernyataan negatif yang mengidentifikasikan bahwa kita membuat situasi – situasi ini.
3.      Melatih coping pernyataan diri sementara bersikap rileks.

Daftar Pustaka :

Scoufis, M. (1993). Stres and Coping. in McWalters, M (Revied Edition), Understanding psychology (Pp 206-224).

NSW : mCgRAW-Hill.



0 comments:

Post a Comment