27.10.15

MENYELAMATKAN GENERASI MUDA DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN DARI PERSOALAN RADIKALISME



M. Melinda Rahail
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Isu mengenai radikalisme semakin marak terdengar dimana-mana dan banyak generasi muda terlibat di dalamnya. Yang menyedihkan adalah adanya radikalisme yang telah terbentuk di dalam lingkungan pendidikan. Ironis memang jika didengar baik-baik, karena lingkungan pendidikan yang adalah tempat menambah ilmu (bersifat membangun) dalam sekejap menjadi tempat membagi ilmu yang bersifat merusak. Bukan berarti pembentuknya adalah rektor, dekan, dan para dosen. Tetapi dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, mereka telah mengambil kesempatan dengan memasuki perguruan-perguruan tinggi di Indonesia dan mencoba untuk mengubah pola pikir para mahasiswa supaya sejalan dan selaras dengan yang mereka harapkan, yakni dengan membuat gagasan-gagasan palsu atau dikarang oleh mereka yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan drastis dan menggunakan cara kekerasan.

Bukan lagi rahasia, jikalau ada banyak generasi muda yang terpengaruh dan malahan direkrut menjadi teroris. Sadisnya, yang direkrut bukan hanya pria tetapi juga para gadis dimana umur merekapun tergolong masih sangat muda dan ada beberapa sumber berita yang mengatakan bahwa para gadis itu, ada yang memilih kembali pada keluarganya namun ada yang memilih memutuskan komunikasi dengan keluarganya dan fokus pada pilihannya. Tetapi ada lagi, mereka sudah kembali pada keluarganya dan memilih meninggalkan keluarga untuk yang ke 2 kalinya dan kembali pada kelompok radikalnya, keputusan terakhir mungkin akan memutuskan hubungan dengan keluarganya. Penyebab mengapa mereka kembali pada kelompok tersebutpun belum ditemukan, apakah karena diancam akan dibunuh (baik dia maupun keluarganya) atau negara mereka akan diserang.

Tentu saja hal yang menyangkut radikalisme dan terorisme itu sangat merisaukan berbagai pihak karena akan sering terjadi perang, bom dimana-mana dan pembunuhan. Jikalau generasi muda dituntun ke arah yang keliru, salah dan membingungkan maka mereka akan terbentuk menjadi orang yang (mungkin) tidak akan pernah bisa mengenal diri mereka sendiri. Kata lain “JATI DIRI” mereka hilang, mereka akan bingung menentukan pilihan untuk ke depannya. Karena mereka akan selalu keliru memilih hal-hal yang malahan membuat rasa bersalah mereka semakin besar, walaupun mereka mencoba untuk mereduksi rasa bersalah tersebut.

Menurut saya alasan para teroris memilih generasi muda adalah karena generasi muda merupakan kelompok generasi yang masih labil dan sangat mudah dipengaruhi, apalagi jika ada gagasan- gagasan (para teroris) yang sesuai dengan pola pikir seorang remaja. Hal itu dengan mudah terjadi karena ada hal-hal tertentu yang tidak disetujui oleh seorang remaja yang terjadi. Misalnya: seorang remaja yang tidak setuju dengan keputusan pemerintah, ia akhirnya mengikuti kelompok-kelompok tertentu untuk demo malahan sampai melakukan perilaku anarkis.

Entah bagaimana pola pikir sebagaian generasi muda jaman sekarang, mereka sangat mudah terpengaruh terutama dari media sosial. Tanpa berpikir terlebih dahulu mereka lantas memilih untuk bergabung dengan group teroris di dunia maya. Padahal mereka bisa dituntut untuk segera bergabung secara resmi ke dalam kelompok radikal tersebut dan resiko serta dampak yang diterima generasi muda tidak main-main. Bukan hanya pada segi fisik, seperti luka karena berkelahi atau bahkan mati, tetapi psikis pun sangat terpengaruh, seperti depresi karena ditolak oleh keluarganya yang tidak menyetujui keputusannya, sulit mengontrol emosi (bisa menjadi pribadi yang mudah marah) dan frustasi karena sampai kapanpun paham atas perubahan drastis secara kekerasan itu tidak akan pernah dapat direalisasikan dengan sempurna.

Terlepas dari berbagai alasan terjadinya radikalisme, mari kita bahas mengenai cara untuk menyelamatkan generasi muda di lingkungan sekolah dari persoalan radikalisme

1.      Para pengajar (guru dan dosen).
Mereka (guru dan dosen) memegang peranan penting dalam pengoprasian pola pikir seorang anak (anak didiknya), jadi sebagian besar nasihat atau kata-kata yang diberikan oleh pengajar akan mudah diingat oleh anak didiknya dan bahkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-sehari. Baik melalui interaksi dengan teman sekolah, teman kompleks, lingkungan tempat tinggalnya bahkan dengan keluarganya sendiri. Sehingga jikalau ada pemahaman-pemahaman yang keliru atau yang dapat membuat mereka terjerumus dalam hal-hal yang bersifat radikal mampu ditolaknya. Selain nasihat, para guru dan dosen juga harus sering-sering mengajak anak didiknya untuk rajin melakukan ibadah.  Lepaskan pertanyaan “Apa agamamu?”, tetapi eratkan pertanyaan “Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan? Apakah sudah berdoa dan bersyukur hari ini?”. Karena semakin dekat seseorang dengan Tuhan, maka ia pun akan semakin sering berdoan dan membaca Kitab Suci yang berisi perumpamaan-perumpamaan dan arahan untuk melakukan hal-hal  baik dan berbagi hal yang ditentang oleh Tuhan juga ada disitu. Sehingga mereka dapat belajar memilih ‘mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan’.

2.      Keluarga.
Keluarga merupakan kunci utama pembentuk kepribadian anak. Jika orang tua sangat peduli, selalu memperhatikan dan sering memberikan nasihat atau kata bijak pada anak maka anakpun akan mengikuti kata-kata orang tuanya. Dan walaupun nasihat tersebut ditanamkan dari kecil, tidak berarti saat anak beranjak remaja akan melupakan semuanya. Karena, itu sudah terbentuk di alam bawah sadarnya sehingga apapun yang akan dilakukan si anak (bersifat negatif) akan selalu diingatkan oleh alam bawah sadar mengenai nasihat orang tuanya itu. Dan nasehat-nasehat tersebut bisa juga dibagikan pada teman karib atau sahabatnya.  Sehingga mereka dapat bekerja sama menentang dan mencegah peredaran radikalisme. Disisi lain, orang tuapun harus memberikan teladan yang baik dalam sikap dan perkataan, dan selalu mengajak anaknya untuk bedoa.

3.      Sekolah
Sebaiknya sekolah membuat kegiatan ekstrakulikuler yang menarik minat pelajar, sehingga pelajar bisa lebih menghabiskan waktu untuk hal—hal positif yang juga meningkatkan kemampuannya terhadap suatu bidang atau membuat pelajar mengenali suatu  ketrampilan yang sebelumnya sama sekali tidak ia ketahui. Sehingga para pelajar bisa mengabiskan waktu untuk hal yang positif  daripada bergabung dengan kelompok-kelompok radikalisme. Selain itu, sebaiknya pihak sekolah lebih sering melakukan pementasan seni tradisional melalui lomba baik menyanyikan lagu daerah, memasak makanan daerah dan menari tarian daerah sehingga kecintaan generasi muda terhadap daerahnya tidak musnah karena perkembangan globalisasi.

Memang tak dapat dipungkiri, jika generasi muda yang adalah tongkat estafet suatu bangsa. Dan sebagai tongkat estafet di negara tercinta, Indonesia, generasi muda seharusnya mampu memilah hal-hal yang patut dan tidak patut untuk dilakukan. Apalagi penyebaran isu radikalisme sangat cepat (seperti jet) ke berbagai daerah bahkan pelosok desa. Biasanya bisa secara oral, melalui buku atau media, baik cetak maupun elektronik.

Saran saya kepada generasi muda, sebagai generasi muda yang berpendidikan, kita harus menunjukan kualitas pribadi primadona, dengan prestasi dan sikap khas negara kita seperti bersikap baik, ramah, murah senyum dan bukan kualitas pribadi jebolan (seperi kekerasan, merusak, dan membunuh) yang hanya merusak citra diri sendiri serta menjatuhkan nama negara di kanca dunia.

0 comments:

Post a Comment