11.10.15

Jangan Membenci Diri Sediri Saat Harus Menjaga Perasaan Orang Lain



Juni Wulan Ningsih
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


Beberapa waktu lalu adanya temen yang curhat ke saya, kurang lebih curhatannya seperti ini “Mbak Juni, karakter sudah terlanjur terbentuk yang ngalah-ngalah dan selalu ngalah Setiap aku bersikap selalu hati orang lain yang selalu aku jaga, biar gak tersinggung dan lain-lain. Sampai-sampai hati orang yang aku jaga itu sering mengecewakanku, aku hanya bisa diam dan tidak cerita kesiapapun hingga aku merasa benci pada diriku sendiri yang tidak terkendali. Kalau usia 22 ini saatnya proses-proses apa ya jun? Aku harus gimana ya?”

Mbak x yang saya sayangi, kalau menurut saya, coba sedikit demi sedikit kalau memang disitu ada hakmu, kamu gak usah ngalah sama orang lain kalau ngalah bikin kamu kecewa.  Terus kalau memang mau ngalah harus bener-bener ikhlas jadi nanti jangan ada perasaan bersalah sama dirimu sendiri. Kalau di Psikologi Perkembangan usia 22 ini sudah masuk ke tahap dewasa awal. Kalau kata dosenku, orang dewasa itu gak nyalahin orang lain atas apa yang terjadi padanya, juga tidak terus-terusan menyalahkan diri sendiri. Jadi belajar menerima realita yang ada, gitu.


Nah berkenaan dengan usia 22 yang masuk kategori dewasa awal, Havighurst (1953 dalam Psychologymania, 2011) menjelaskan beberapa tugas pada masa perkembangan dewasa awal antara lain:
a. Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)
Pada masa ini sudah mulai serius dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis yang dinantinya akan dijadikan pendamping hidup. Sudah ada kriteria-kriteria yang ditentukan untuk si doi seperti usia, pendidikan, suku, agama, status kebangsaan, status ekonomi, dan lain sebagainya, yang tentunya setiap orang mempunyai kriterianya masing-masing.
b. Belajar hidup bersama dengan suami istri
Bagi yang sudah menikah atau pasangan muda, tahap-tahap penyesuaian diri mulai dilakukan. Saat itulah mulai terkuak semua kebaikan dan keburukan pasangan, lalu tugasnya ialah  menyesuaikan kebiasaan kita dengan kebiasaan pasangan. Keberhasilan penyesuaian diri ini akan membuat pernikahan langgeng dan bisa berujung perceraian bila tidak mampu menyesuaikan.
c. Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
Masa-masa dewasa awal biasanya sudah disuruh oleh keluarga, khususnya orang tua untuk mencari pasangan hidup. Hal ini juga dapat menjadi sebuah bukti kemandirian seseorang khususnya dalam hal finansial yang dapat menjadi bekal untuk berkeluarga dan mengasuh anak.
 d. Mengelolah rumah tangga
Setelah menikah bukan hanya dituntut untuk beradaptasi dengan pasangan melainkan juga mengelola rumah tangga, mulai dari mengelola uang, mendidik anak, membesarkan anak, dan sampai pada menjaga hubungan baik dengan orang tua maupun sanak saudara.
e. Mulai bekerja dalam suatu jabatan
Dewasa awal umumnya merupakan usia setelah menyelesaikan pendidikan formal (SMU atau universitas) dan mulai memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, seseorang akan mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang dan keahliannya. Meskipun kadang banyak juga pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang yang diambil waktu sekolah. Pada tahap ini, orang akan bekerja keras untuk memperbaiki kehidupannya di masa depan.
f. Mulai bertangungjawab sebagai warga Negara secara layak
Orang yang sudah memasuki tahap dewasa awal sudah menunjukan tanggung jawabnya sebagai warga negara yang baik. Hal ini ditunjukan dengan telah memiliki KTP, membayar pajak dan tagihan-tagihan, menjaga ketertiban lingkungan, tidak melanggar norma, menghargai hak orang lain, dan lain sebagainya.
g. Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya
Pada masa ini orang-orang juga mulai berkumpul dengan kelompok sosial yang sesuai dengan prinsip hidupnya.


Referensi:
Psychologymania. (2011). Psikologi (Perkembangan Dewasa Awal). Retrieved On 11 Oct, 2015, from : https://psychologymania.wordpress.com/2011/07/12/psikologi-perkembangan-dewasa-awal/



0 comments:

Post a Comment