13.9.15

Ringkasan Artikel: Sampah Elektronik Tak Terdata Baik
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta


Indonesia Tanpa Pusat Daur Ulang
Volume sampah elektronik terus bertambah, tetapi belum ada satu pun pusat daur ulangnya di Indonesia. Data Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2014, tercatat 19.300 ton sampah elektronik dari sekitar 2.000 industri besar. Itu belum termasuk data dari sektor rumah tangga dan indusrti kecil-menengah.
Sampah elektronik yang tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat mencemari lingkungan dan dapat membahayakan manusia jika dibiarkan terpapar di lingkungan tanpa pengelolaan. Baterai, aki, telepon selular, televisi dan pendingin ruangan yang rusak dan tak terpakai merupakan limbah mengandung B3, seperti timbal dan polychlorinated biphenyl (PCB).
Saat dibakar, PCB menghasilkan dioksin yang mengganggu organ pernapasan. Material PCB yang terurai dan terakumulasi memicu kanker (karsinogen).
Hingga kini hanya ada empat tempat pemisahan sampah elektronik. Tiga tempat berada di Jawa dan satu lagi di Batam. Komponen sampah elektronik yang masih bisa digunakan, seperti plastik dan tembaga, dipisahkan lalu diekspor ke Singapura untuk didaur ulang.
Di tengah ketiadaan pusat daur ulang sampah elektronik nasional muncul usaha daur ulang swasta. Senin lalu, PT Mitra Kersa Artha, perusahaan yang menaungi iSiaga, meluncurkan Ecocash. Ecocash adalah layanan daring yang siap membeli sampah elektronik untuk didaur ulang.

Berdasarkan peraturan pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, setiap produsen (penghasil limbah) harus melakukan extended producer responsibility (ERP), yakni menarik kembali sampah yang dihasilkan untuk didaur ulang.
Anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi mengatakan, sampah elektronik semestinya jadi tanggung jawab industri elektronik. Menurut dia, perusahaan dapat membeli lagi produk elektronik yang tidak digunakan konsumen.
Sumber Tulisan

Kompas. (2015). Sampah Elektronik. Kompas, 19 Maret

0 comments:

Post a Comment