15.9.15

Ringkasan Artikel Menafkahi Keluarga dengan Koran Bekas


R Joko Prambudiyono/13.1032
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta

RINGKASAN ARTIKEL :
Menafkahi Keluarga dengan Koran Bekas

Seorang ibu yang lahir di Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) 22 September 1947. Seorang istri dari Rosalina Nepasari, yang memiliki 4 anak. Pendidikan sekolah menengah ekonomi pertama di Lewoleba, NTT dan SMEA Nasional Kupang, NTT. Lamalera merupakan sebuah kampung yang terkenal tradisinya menangkap ikan besar secara “kuno”. Tradisi sebagai nelayan ini mereka jalankan secara turun-menurun. Nama Clemens Korahana memilih jalan lain, sejak 19 tahun lalu ia justru merantau ke Kupang dan menafkahi keluarganya dengan kerajinan berbahan koran bekas.
Bagi kebanyakan orang koran bekas hanya sekedar sampah yang harus dilenyapkan atau dibuang. Namun ditangan Clemens Korahana benda tersebut merupakan benda berharga karena menjadikan koran bekas sebagai kerajinan tangan yang dia tekuni sejak sekitar 5 tahun yang lalu.
Dari awal hanya coba-coba, ternyata dalam perjalanannya justru membangkitkan kebanggaan luar biasa karena hasilnya bisa mendatangkan uang. Kerajinan tersebut malah mendapat apresiasi dan penghargaan dari pemerintah serta pihak lain. Proses pembuatan kerajinan ini dalam dua bentuk yang pertama lembaran kertas dia gunting secara memanjang selebar sekitar 5 cm. selanjutnya diplintir-plintir hingga terbentuk tali. Setelah direndam dalam cairan perekat, hasil pilinan itu pun siap untuk dirakit menjadi produk kerajinan sesuai bentuk yang diinginkan, seperti piring makan, stoples, wadah kertas, saputangan, pot bunga dan hiasan gelas. Proses pembuatan kedua lembaran kertas Koran bekas langsung diremas-remas dan dihancurkan hingga mirip bubur kertas setelah dicampur zat perekat, bubur lampu tersebut kemudian dirangkai menjadi kap lampu dan berbagai hiasan ruangan. Setelah melalui beberapa kali uji coba, kualitas kerajinan Clemens menjadi semakin baik hingga mendapat bantuan dana sebesar Rp. 500.000 lewat program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan oleh Lurah Naikoten II ketika itu tahun 2009.

Clemens telah mencatat sejumlah peristiwa  serta dukungan yang membangkitkan kepercayaan dirinya. Salah satunya tamu dari Pulau Jawa yang datang kerumahnya sekaligus tempat usahanya. Saat itu diruang depan sedang dipajang hasil kerajinan berupa dua stoples lengkap dengan dulangnya. Clemens dan istrinya dengan enteng menjual barang hasil kerajinannya sebesar Rp. 600.000,00 dia kaget bercampur terharu karena tanpa ditawar langsung membayar produk tersebut. Padahal stoples tersebut lengkap dengan dulangnya itu dijual seharga Rp. 300.000 sekalipun sudah sangat untung buat dia.
Lewat kerajinan tersebut Clemens beberapa kali dilibatkan dalam pameran hasil kerajinan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Kupang. Pernah juga pada saat dipamerkan saat seorang wali kota Belanda yang berkunjung dan membeli hasil kerajinan tersebut dengan harga 1 juta. Namanya sebagai penggerajin Koran bekas pun semakin terkenal dan banyak pesanan yang mulai berdatangan. Selain itu dia juga sering diundang sebagai tutor untuk pelatihan kerajinan serupa yang digelar berbagai lembaga, semisal Forum Pemberdayaan Perempuan dan Anak NTT, Badan Pemberdayaan Masyarakat Kota Kupang, dan sejumlah sekolah menengah kejuruan di Kupang dan sekitarnya.

Sumber :
Sarong, F. 2014. Menafkahi Keluarga dengan Koran Bekas. Kompas. 9 jun. hal 16
16

0 comments:

Post a Comment