16.9.15

Ringkasan Artikel 2: Teknologi Permudah Pemantauan Emisi Industri
Susanti
Fakultas Psikologi
Universitas Proklamasi 45 Yogyakakarta

Penggunaan sistem pemantauan prediksi emisi mempermudah pengawasan dan berbiaya murah dibandingkan dengan sistem pemantauan langsung emisi. Teknologi yang dikembangkan Denmark di Indonesia sejak tiga tahun lalu itu perlu dikembangkan agar mampu mengukur partikulat/debu yang dilepaskan cerobong pembangkit listrik berbahan bakar batubara.
Sigit Reliantoro, Asisten Deputi Pengendalian Pencemaran Pertambangan, Energi, dan Migas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Rabu 18 Maret 2015, di Jakarta di sela-sela Diskusi Kelompok Terfokus Penggunaan Teknologi Predictive Emission Monitoring System (PEMs) mengungkapkan bahwa jika teknologi tersebut bisa dikembangkan untuk industri berbahan batubara maka akan sangat membantu.
Pembukaan diskusi dihadiri Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klyngetbc dan Staf Ahli Menteri LHK Bidang Hukum dan HonocoPhillips North Belut dan pembangkit listrik Indonesia Power-Bali.
Jan menunjukkan, akurasi PEMs pada pengukuran nitrogen oksida (NOx) mencapai 95 persen. Metode dilakukan dengan memasang sensor-sensor pengukur tekanan, temperatur, dan sebagainya. Data yang didapat lalu dikalibrasi dan diolah dalam perangkat lunak.
Metode PEMs digunakan di banyak negara, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat. Di Denmark, PEMs juga digunakan dasar perhitungan pajak Nox.
Di Indonesia, penerapannya masih memerlukan payung hukum dan disusun standar referensi nasional (SNI) dan verifikasi. Kini,kewajiban kelengkapan pemantau emisi baru pada sistem langsung (continuous emissions monitoring system/ CEMs). Itu pun baru diterapkan pada pembangkit listrik lebih dari 20 megawatt.
Sigit Reliantoro mengatakan, teknologi pemantauan emisi pada industri energi sangat penting karena Indonesia menargetkan pembangunan instalasi listrik berkapasitas 35.000 megawatt. Namun, sebagian besar dari pembangkit listrik itu masih mengandalkan bahan bakar batu bara.
Oleh karena itu, pemantauan emisi akan menjadi alat pengendali kualitas lingkungan dengan dasar ilmiah kuat. 

Sumber tulisan:

Kompas. (2015). Pencemaran Udara. Kompas, 19 Maret

0 comments:

Post a Comment