17.9.15

HIV AIDS


 Oleh 
Sasta Anindia Maharani
Fakultas Psikologi 
Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta


AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah salah satu penyakit yang termasuk kategori kronis, yang muncul sehubungan dengan adanya infeksi yang disebabkan oleh masuknya virus yang disebut HIV (Human Immunodefienciency Virus). HIV ini menyerang dan menurunkan fungsi kekebalan tubuh manusia, dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui pertukaran cairan tubuh saat melakukan hubungan seksual, melalui darah, melalui air susu ibu yang tertular HIV, serta melalui penggunaan jarum suntik secara bersamaan dengan individu yang tertular HIV. Virus ini secara bertahap membuat daya tahan tubuh semakin berkurang dan mengarah pada kematian.

Tanda-tanda orang yang tertular AIDS yaitu :
- Tanda utama (gejala mayor) :
1. berat badan menurun lebih dari 10% dalam waktu singkat
2. Demam berkepanjangan selama lebih dari satu bulan
3. Diare berkepanjangan selama lebih dari satu bulan
- Tanda tambahan (gejala minor) :
1. Batuk berkepanjangan selama lebih dari satu bulan
2. Kelainan kulit dan iritasi (gatal)
3. Herpes kulit (kulit melempuh dan terasa nyeri) yang menyebar dan bertambah parah
4. Infeksi jamur pada mulut dan kerongkongan
5. Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh, yang teraba dibawah telinga, leher, ketiak, dan lipat paha.
Bila terdapat sekurang-kurangnya tiga hari dari sekian gejala di atas, bisa diperkirakan adanya AIDS. Diagnosa AIDS hanya bisa ditegakkan setelah dilakukan tes darah.
Pencegahan HIV AIDS antara lain :
1. Tidak berganti-ganti pasangan seksual atau melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang sama
2. Hindari hubungan seks diluar nikah
3. Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks
4. Hindari tranfusi darah yang tidak jelas sumbernya.
5. Gunakan alat medis yang steril
6. Hindari penggunaan jarum suntik secara bersamaan atau tidak menggunakan narkoba
7.  Rajin mengikuti seminar tentang HIV AIDS
 Sebagaimana umumnya, dominasi usia produktif mewarnai kasus HIV dan AIDS di DIY. Angka komulatif triwulan pertama 2015 yang dikeluarkan Kepala Seksi P2 Dinkes DIY dr Akhmad Akhadi menunjukkan usia 5-14 tahun terinfeksi HIV 21, kasus AIDS 16. Usia 15-19 tahun HIV 38, kasus AIDS 15. Usia 20-29 tahun HIV 702 dan AIDS 351 serta usia 30-39 tahun HIV 525 dan AIDS 442. Berdasar faktor risiko hetereoseksual pada HIV 923, AIDS 827.Sedangkan homoseksual HIV 296, AIDS 98 dan narkoba suntik HIV 109, AIDS 100. Dari jumlah kumulatif di DIY ada 1.192 laki-laki terinfeksi HIV dan AIDS 841. Sedang perempuan HIV 623 dan AIDS 379.
Melihat faktor risiko dan usia terutama perubahan perilaku harus menjadi upaya preventif penanggulangan HIV dan AIDS. KPAN dan pertemuan Nasional AIDS (Pernas) AIDS V 2015 di Makassar perlu merumuskan kebijakan agar daerah juga lebih efektif melibatkan orang dengan HIV dan AIDS (Odha) untuk kegiatan yang lebih luas, seperti di sekolah. Sekedar teori dari guru pendidikan jasmani sebagaimana diberikan kurikulum, akan membosankan siswa. Namun kehadiran Odha yang sudah declare dan bersedia menjadi relawan perubahan perilaku, akan lebih efisien. Dan kata kunci untuk terjadinya perubahan perilaku adalah penghapusan stigma dan stereotip Odha.



Sumber :
Yatim, DI.2006.Dialog Seputar AIDS.Jakarta : Grasindo.
Sustiwi, F.2015.Mengubah Perilaku Mengantisipasi HIV. Yogyakarta : Kedaulatan Rakyat (13 September 2015)

0 comments:

Post a Comment