31.8.15

Tes Keperawanan di TNI



Fx. Wahyu Widiantoro
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Relevansi tes keperawanan dengan kemampuan seorang wanita dalam menjalankan tugasnya sebagai tentara tentunya tidak terkait langsung. Pada pertengahan bulan Mei 2015 di berbagai media dikabarkan tentang tes keperawanan bagi calon tentara sedangkan beberapa tahun silam tes keperawanan bahkan sempat diusulkan di sejumlah daerah sebagai syarat kelulusan SMA. Serentak wacana tersebut mendapat penolakan dari berbagai kelompok perempuan (Sabrina Asril, Jumat 15 Mei 2015, 20.00. Kompas.com).

Menarik untuk dicermati sejauhmanakah tes keperawanan mampu menjadi indikator tegaknya moralitas. Tes keperawanan dapat dinilai baik bila dimaksudkan sebagai disiplin moral sejak awal. Tentu nya kita berharap tes tersebut dilakukan dengan cara yang cukup manusiawi dan toleran yaitu dokter harus wanita serta alat yang digunakan dalam melakukan tes tersebut tidak merusak keperawwanan itu sendiri. Terkait dengan hasil tes tersebut, bila ternyata tidak perawan yang disebabkan karena sakit, cedera ataupun kecelakaan tentunya tidak  akan dipermasalahkan. Jadi yang dianggap tidak lolos selekeksi dalam suatu tes keperawanan yaitu apabila seseorang yang tidak perawan tersebut lebih karena suatu hubungan seksual.

Pentingnya menegakkan nilai moralitas tentunya diawali dari kesadaran norma-norma yang berkembang di masyarakat. Beragam budaya yang saat ini dengan mudah berkembang di tengah masyarakat membutuhkan control yang lebih ketat. Seperti halnya seks bebas yang sering kali langsung dihubungkan dengan penanganan pemerintah dan sekelompok masyarakat terhadap penutupan tempat-tempat portitusi. Seks bebas tidak harus tentang porstitusi. Hal itu sebenarnya lebih mudah diatasi & diketahui tapi yang terselubung atau perselingkungkun dengan berbagai alas an itu yang perlu diwaspadai. Bila kita lebih mencermati, sekarang ini marak “porstitusi terselubung” dengan penyakit lama “perselingkuhan”.
Tes keperawanan menjadi cara penegakan moral apabila mampu memberikan efek jera sebagai pengurangan kasus lama dan baru juga sebagai preventif dan tindakan amoral nantinya. Apabila tes tersebut dilaksanakan di instansi seperti halnya di TNI, tentunya di sisi lain kita juga perlu memberikan hak masa depan bagi yang sudah tidak perawan karena seks bebas. Tugas selanjutnya yaitu  bagaimana kita bisa menjamin bahwa sikap para peserta tes yang lolos tersebut  tidak akan melakukan perilaku bertentangan dengan tujuan tes tersebut ketika berprofesi nantinya, mengingat disiplin tersulit adalah ”Disiplin moral”.
Referensi: Asril,Sabrina (2015). Kompas.com, Jumat 15 Mei, 20.00.

*Materi pada Siaran Interaktif Psikologi di RRI Kotabaru DIY, pada hari Rabu, 20 Mei 2015, pukul 20.15 – 21.00.

0 comments:

Post a Comment