31.8.15

Psikologi Positif



Fx. Wahyu Widiantoro
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

Setiap individu memiliki potensi dan berkecenderungan selalu ingin maju serta berkembang. Di sisi lain, kondisi lingkungan sangat berpengaruh terhadap kestabilan psikologis manusia. Seperti halnya yang terjadi di masyarakat kita saat ini, dengan beragam stresor yang ada dari kegalauan dalam mencermati kondisi sosial, politik, ekonomi hingga maraknya peredaran narkoba yang berdampak pada dekadensi moral ditambah dengan beragam informasi tentang himbauan untuk selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam. Kesemua kondisi lingkungan yang meningkatkan stresor bagi individu tersebut mengakibatkan kondisi psikologis yang tidak sehat dan pada saat inilah ilmu psikologi sangat dibutuhkan, baik sebagai upaya penyembuhan, pembinaan secara individu maupun kelompok dan sekaligus karena kondisi tersebutlah maka masyarakat lebih mengenal psikologi sebagai disiplin ilmu yang berorientasi pada sisi negatif individu yang berkencenderungan mengalami gangguan jiwa, penyakit mental seperti halnya trauma, stres, depresi, dan sebagainya.

Psikologi pada dasarnya lebih mempelajari perilaku yang dapat diamati serta yang ditimbulkan dari aspek-aspek kejiwaan manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Aspek-aspek kejiwaan manusia sangatlah kompleks, begitu halnya bidang psikologi mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan aspek-aspek jiwa, misal tentang penyebab individu mengalami gangguan jiwa sekaligus mempelajari upaya untuk mencegah individu mengalami gangguan jiwa. Usaha pencegahan atau yang lebih dikenal sebagai upaya preventif dalam bidang kesehatan mental inilah maka psikologi lebih fokus pada penggalian emosi positif, seperti bahagia, cinta, sikap optimis dan sebagainya. Psikologi yang lebih berorientasi pada sisi positif individu lebih dikenal dengan sebutan Psikologi Positif.
Psikologi Positif secara resmi ditetapkan sebagai aliran atau telaah keilmuan dari psikologi oleh Martin E.P. Seligman pada tahun 1998. Beliau yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden APA (American Psychological Assosiation) menjelaskan bahwa Psikologi bukan hanya studi tentang kelemahan dan kerusakan; psikologi juga adalah studi tentang kekuatan dan kebajikan. Pengobatan bukan hanya memperbaiki yang rusak; pengobatan juga berarti mengembangkan apa yang terbaik yang ada dalam diri kita. Misi Seligman ialah mengubah paradigma psikologi, dari psikologi patogenis yang hanya berkutat pada kekurangan manusia ke psikologi positif, yang berfokus pada kelebihan manusia.
Salah satu teori dari Seligman yang menarik untuk lebih dipahami yaitu bahwa rasa tidak berdaya adalah hasil belajar atau learned helplessness . Sebagai contoh dari teori tersebut yaitu ketika individu mengalami kegagalan berulang kali dalam mendapatkan pekerjan, maka individu tersebut cenderung akan mempercayai bahwa dirinya ditakdirkan menjadi individu yang gagal. Hal yang dapat disimpulkan dari teori tersebut yaitu rasa tidak berdaya adala hasil belajar, itu memang benar adanya.  Belajar disengaja dan atau tidak disengaja. ”Belajar” yang disengaja, artinya memang individu memiliki niat untuk tidak mau bersusah payah dan cenderung menyuruh/tergantung dengan orang lain. Ia memiliki idealism namun tidak diimbangi dengan upaya usaha yang realistis. Sehingga orang yang demikian secara umum tidak menampakan kalau ia tidak berdaya karna mekanisme dirinya sebagai tamengnya. Individu yang demikianlah yang sebenarnya mentidakberdayakan dirinya. Sedangkan ”Belajar” yang tidak disengaja misalnya adanya pola asuh ketika individu dibiasakan dilayani. Sehingga seiring dengan tumbuh kembangnya, individu tidak mandiri dan merasa dirinya tidak mampu. Hal tersebut hanya merupakan kecemasan semu karena tidak adanya pengalaman untuk berlatih atas sesuatu hal. Artinya tidak ada keberanian untuk belajar treal and error. 
Peranan psikologi positif sangat mendukung bagi kehidupan sehari-hari setiap individu yang berharap memiliki kualitas hidup yang sehat dan matang. Psikologi positif diperlukan dalam memotivasi diri dan menghadapi berbagai stressor kehidupan tentunya tidak harus menunggu ketika individu telah mengalami musibah ataupun stress.
*Materi pada Siaran Interaktif Psikologi di RRI Kotabaru DIY, pada hari Rabu, 27 Mei 2015, pukul 20.15 – 21.00.

0 comments:

Post a Comment